Teori Modern
THE
PROPORTIONAL FACTORS THEORY DARI ELI HECKSCHER DAN BERTIL OHLIN
Menurut teori
Heckscher-Ohlin atau teori H-O, perbedaan opportunity cost suatu produk antara
satu negara dengan negara lain dapat terjadi kerena adanya perbedaan jumlah
atau proporsi faktor produksi yang dimiliki (endowment faktors) masing-masing
negara. Perbedaan opportunity cost tersebut dapat menimbulkan terjadinya
perdagangan internasional. Negara-negara yang memiliki faktor produksi relatif
banyak/murah dalan memproduksinya akan melakukan spesialisasi produksi dan
mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang
tertentu jika negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif
langka/mahal dalam memproduksinya.
Dalam
analisisnya teori, modern H-O menggunakan dua kurva. Pertama adalah kurva
"isocost", yaitu menggambarkan total biaya produksi yang sama dan
kurva "isoquant", yaitu kurva yang menggambarkan total kuantitas
produk yang sama. Menurut ekonomi mikro, kurva isocost akan bersinggungan dengan
kurva isoquant pada suatu titik optimal.Jadi, dengan biaya/cost tertentu akan
diperoleh produk yang maksimal; atau dengan biaya/cost minimal akan diperoleh
sejumlah produk tertentu.
Sesuai dengan
konsep titik singgung antara isocost dan isoquant ini, maka masing-masing
negara tentu cenderung memproduksi yang paling optimal sesuai struktur/proporsi
faktor produksi yang dimilikinya. Selanjutnya, teori H-O menggunakan asumsi 2 x
2 x 2 dalam arti sebagai berikut.
1.
Perdagangan Internasional terjadi antara dua negara (misalnya antara indonesia
dan jepang)
2.
Masing-masing negara memprodukai dua macam barang yang sama (misalnya 100 unit
pakaian dan 20 unit radio).
3.
Masing-masing negara menggunakan dua macam faktor produksi, yaitu tenaga kerja
dan mesin tetapi dengan jumlah/proporsi yang berbeda.
Untuk
memudahkan analisis manfaat perdagangan internasional (gain from trade) yang
diperoleh masing masing negara berdasarkan teori H-O, maka asumsi 2 x 2 x 2
tersebut disusun dalan suatu matrik sebagai berikut.
Matrik gain
from trade berdasarkan teori H-O
|
Negara
|
Indonesia
|
Jepang
|
||
|
Barang
|
Pakaian
|
Radio
|
Pakaian
|
Radio
|
|
F. Produksi
|
Tenaga
kerja
|
Modal
|
Tenaga
kerja
|
Modal
|
|
Proses
Produksi
|
P. Karya
|
P. Modal
|
P. Karya
|
P. Modal
|
|
Proporsi F.
Produksi
|
60 unit
(banyak)
|
15 unit (kurang)
|
30 unit
(kurang)
|
60 unit
(banyak)
|
|
Isoquant
|
100 unit
|
20 unit
|
100 unit
|
20 unit
|
|
Isocost
|
$400
|
$600
|
$600
|
$400
|
|
Unit Cost
|
$4 (murah)
|
$30 (mahal)
|
$6 (mahal)
|
$20 (murah)
|
Berdasarkan
matriks diatas dan konsep titik singgung antara isocost dan isoquant sebagai
suatu titik optimal untuk memproduksi sejumlah barang tertentu. Adanya
perbedaan proporsi/jumlah faktor produksi, sehingga menimbulkan terjadinya perdagangan
internasional yang bermanfaat bagi kedua negara.
Akhirnya,
analisis teori H-O tersebut dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Harga/biaya
produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah/proporsi faktor produksi yang
dimiliki masing-masing.
2. Comparative
advantage atau keunggulan komparatif dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing
negara akan ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang
dimilikinya.
3.
Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan
mengekpor barang tertentu kerena negara tersebut memiliki faktor produksi yang
relatif banyak dan murah untuk memproduksinya.
4. Sebaliknya,
masing-masing negara akan mengimpor barang tertentu kerena tersebut memiliki
faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal untuk memproduksinya.
Kelemahan Teori
H-O :
1. Menurut
teori H-O, perbedaan harga barang sejenis dapat terjadi kerena adanya perbedaan
proporsi/jumlah faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara dalam
memprodukso barang tersebut.
2. Dengan
demikian, jika jumlah/proporsi faktir produksi yang dimiliki masing-masing
negara relatif sama, maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga
perdagangan internasional tidak akan terjadi.
3. Pada
kenyataannya, walaupun jumlah/proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing
negara relatif sama sehingga harga barang yang sejenis pun sama, ternyata perdagangan
internasional tetap dapat terjadi.
4. Untuk
menjelaskan hal ini dan sebagai penyempurnaan dari teori H-O, maka teori
opportunity cost dari G. Harberler akan menjelaskan/menganalisis tentang
terjadinya perdagangan internasional kerena adanya :
a. Perbedaan
kemampuan berproduksi masing-masing negara yang ditunjukan oleh PPC-nya (Production
Possibility Curve).
b. Perbedaan
selera konsumen di masing-masing negara yang ditunjukan oleh IC-nya
(Indifference Curve).
Sumber:
Hady, Hamdy. 2001. Ekonomi
Internasional: Teori dan Kebijaksanaan Perdagangan Internasional (Jilid 1).
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Halwani,
Hendra. 2002. Ekonomi Interasional & Globalisasi Ekonomi. Jakarta: Ghalia
Indonesia






0 komentar:
Posting Komentar