Jumat, 11 Maret 2016

ZIKA PUSPITASARI 2013310026




Teori Modern

THE PROPORTIONAL FACTORS THEORY DARI ELI HECKSCHER DAN BERTIL OHLIN

Menurut teori Heckscher-Ohlin atau teori H-O, perbedaan opportunity cost suatu produk antara satu negara dengan negara lain dapat terjadi kerena adanya perbedaan jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki (endowment faktors) masing-masing negara. Perbedaan opportunity cost tersebut dapat menimbulkan terjadinya perdagangan internasional. Negara-negara yang memiliki faktor produksi relatif banyak/murah dalan memproduksinya akan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang tertentu jika negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif langka/mahal dalam memproduksinya.

Dalam analisisnya teori, modern H-O menggunakan dua kurva. Pertama adalah kurva "isocost", yaitu menggambarkan total biaya produksi yang sama dan kurva "isoquant", yaitu kurva yang menggambarkan total kuantitas produk yang sama. Menurut ekonomi mikro, kurva isocost akan bersinggungan dengan kurva isoquant pada suatu titik optimal.Jadi, dengan biaya/cost tertentu akan diperoleh produk yang maksimal; atau dengan biaya/cost minimal akan diperoleh sejumlah produk tertentu.
Sesuai dengan konsep titik singgung antara isocost dan isoquant ini, maka masing-masing negara tentu cenderung memproduksi yang paling optimal sesuai struktur/proporsi faktor produksi yang dimilikinya. Selanjutnya, teori H-O menggunakan asumsi 2 x 2 x 2 dalam arti sebagai berikut.
1. Perdagangan Internasional terjadi antara dua negara (misalnya antara indonesia dan jepang)
2. Masing-masing negara memprodukai dua macam barang yang sama (misalnya 100 unit pakaian dan 20 unit radio).
3. Masing-masing negara menggunakan dua macam faktor produksi, yaitu tenaga kerja dan mesin tetapi dengan jumlah/proporsi yang berbeda.

Untuk memudahkan analisis manfaat perdagangan internasional (gain from trade) yang diperoleh masing masing negara berdasarkan teori H-O, maka asumsi 2 x 2 x 2 tersebut disusun dalan suatu matrik sebagai berikut.
Matrik gain from trade berdasarkan teori H-O
Negara
Indonesia
Jepang
Barang
Pakaian
Radio
Pakaian
Radio
F. Produksi
Tenaga kerja
Modal
Tenaga kerja
Modal
Proses Produksi
P. Karya
P. Modal
P. Karya
P. Modal
Proporsi F.
Produksi
60 unit (banyak)
15 unit (kurang)
30 unit (kurang)
60 unit (banyak)
Isoquant
100 unit
20 unit
100 unit
20 unit
Isocost
$400
$600
$600
$400
Unit Cost
$4 (murah)
$30 (mahal)
$6 (mahal)
$20 (murah)

Berdasarkan matriks diatas dan konsep titik singgung antara isocost dan isoquant sebagai suatu titik optimal untuk memproduksi sejumlah barang tertentu. Adanya perbedaan proporsi/jumlah faktor produksi, sehingga menimbulkan terjadinya perdagangan internasional yang bermanfaat bagi kedua negara.
Akhirnya, analisis teori H-O tersebut dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Harga/biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah/proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing.
2. Comparative advantage atau keunggulan komparatif dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing negara akan ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang dimilikinya.
3. Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan mengekpor barang tertentu kerena negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif banyak dan murah untuk memproduksinya.
4. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang tertentu kerena tersebut memiliki faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal untuk memproduksinya.

Kelemahan Teori H-O :

1. Menurut teori H-O, perbedaan harga barang sejenis dapat terjadi kerena adanya perbedaan proporsi/jumlah faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara dalam memprodukso barang tersebut.
2. Dengan demikian, jika jumlah/proporsi faktir produksi yang dimiliki masing-masing negara relatif sama, maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional tidak akan terjadi.
3. Pada kenyataannya, walaupun jumlah/proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara relatif sama sehingga harga barang yang sejenis pun sama, ternyata perdagangan internasional tetap dapat terjadi.
4. Untuk menjelaskan hal ini dan sebagai penyempurnaan dari teori H-O, maka teori opportunity cost dari G. Harberler akan menjelaskan/menganalisis tentang terjadinya perdagangan internasional kerena adanya :
a. Perbedaan kemampuan berproduksi masing-masing negara yang ditunjukan oleh PPC-nya (Production Possibility Curve).
b. Perbedaan selera konsumen di masing-masing negara yang ditunjukan oleh IC-nya (Indifference Curve).

Sumber:

Hady, Hamdy. 2001. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijaksanaan Perdagangan Internasional (Jilid 1). Jakarta: Ghalia Indonesia.

Halwani, Hendra. 2002. Ekonomi Interasional & Globalisasi Ekonomi. Jakarta: Ghalia Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar