Jumat, 11 Maret 2016

Lidya Erinda (2013310025)

Teori Perdagangan Internasional Modern
Leontief Paradoks
            Wasily Leontief, ekonom kelahiran Rusia tahun 1906, ia juga seorang pelopor utama dalam analisis input-output matriks, melalui studi empiris yang dilakukannya pada tahun 1953 menemukan fakta. Fakta itu mengenai struktur perdagangan luar negeri (ekspor dan impor). Secara umum AS diasumsikan sebagai suatu Negara yang relative memiliki modal/capital lebih banyak dan tenaga kerja/labor lebih sedikit dibandingkan Negara-negara lain.
            Berdasarkan teori H-O ekspor AS terdiri atas barang-barang yang padat modal/capital, sebaliknya impornya terdiri atas barang-barang yang padat karya/tenaga kerja. Sedangkan berdasarkan studi empiris yang dilakukan W. Leontief, ternyata ekspor AS justru terdiri atas barang-barang yang padat karya/tenaga kerja, sebaliknya impornya terdiri atas barang-barang yang padat modal/capital.
            Berdasarkan penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh beberapa ahli ekonomi perdagangan (P.H. Lindert, 1982;69), ternyata Paradox Leontief dapat terjadi karena empat sebab utama, yaitu:
1.      Intensitas faktor produksi yang berbalikan (factors intensity reversals)
2.      Tariff and Non-Tariff barrier
3.      Perbedaan dalam skills (keahlian) dan Human Capital (modal manusia)
4.      Perbedaan dalam faktor sumber daya alam (Natural Resources).
Namun, penemuan Leontief tersebut tidaklah sepenuhnya bertentangan dengan teori H-O. AS memang lebih banyak tenaga kerja yang terdidik (skilled labor) dibandingkan Negara-negara lain, sehingga ekspornya lebih banyak trdiri atas yang padat karya/ tenaga kerja yang terdidik. Jadi penemuan Leontief tersebut, dalam batasan tertentu, justru sesuai dan mendukung  teori H-O.
Dari hasil temuan Leontief tersebut kita dapat mengenal lebih lanjut mengenai pertentangan (paradox) ini yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Kekeliruan statistik. Kemungkinan telah terjadi kekeliruan statistic yang dilakukan oleh Leontief, terutama dalam pengambilan data yang tidak representative. Namun, bagaimanapun masih dapat disimpulkan bahwa tidak banyak alasan untuk meragukan pendapat bahwa Negara secara structural melimpah modal, ternyata bisa juga melakukan ekspor dengan hasil produksi yang lebih padat karya dibanding dengan barang yang diimpornya.
2.    Faktor kepadatan timbal balik. Sebagai contoh, hasil produksi padi di Vietnam/Thailand adalah hasil produksi yang padat karya, tetapi di Texas merupakan hasil produksi padat modal. Hal ini secara tidak langsung, menurut Ronald Jones, bahwa subtitusi impor Amerika akan lebih padat modal daripada ekspornya.
3.    Kondisi permintaan. Keinginan dan selera masyarakat berbeda-beda dalam Negara itu sendiri mapun antara Negara satu dengan Negara lainnya. Kesukaan terhadap produk impor tertentu, baik itu karena daya tarik merk, rasa, bentuk, kenyamanan, daya tahan, kelembutan, bebauan, pewarnaan, corak dan lain-lain yang membuat kondisi permintaan cenderung lebih menyukai barang impor yang bersifat padat modal seperti yang dilakukan pada waktu periode penelitian.
4.    Proteksi. Tarif di Amerika pada prinsipnya ditujukan untuk menghambat barang-barang produksi padat karya dari pasar domestic mereka. Oleh karena itu, Kemungkinan barang-barang yang agak padat modal dari Negara lain mempunyai kesempatan lebih besar untuk masuk ke Amerika.
5.    Kualitas tenaga kerja amerika. Leontief menerangkan bahwa kualitas tenaga kerja Amerika sangat efisien dan produktif jika dibandingkan dengan tenaga kerja Negara-negara partner dagangnya yang melimpah modal.
6.    Variasi Faktor Produksi. Faktor produksi memerlukan paling sedikit empat faktor produksi, yaitu meliputi modal, teknologi, tenaga kerja buruh, tenaga kerja professional yang terdidik dan tanah (sumber daya alam).

SUMBER:
-        Hady, Hamdy. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijaksanaan Perdagangan Internasional (jilid 1). Jakarta: Ghalia Indonesia.
-         Halwani, Hendra. 2002. Ekonomi Interasional & Globalisasi Ekonomi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar