Sabtu, 12 Maret 2016

Inge Risky Hardianti 2013230030 Teori Hechkscher - Ohlin

Inge Risky Hardianti
2013230030
Ekonomi Internasional
Teori Hechkscher – Ohlin
Pada teori sebelumnya yaitu teori klasik menerangkan comparative advantage dalam bentuk produktivitas dari tenaganya (labor produktivity). Teori yang lebih modern dikemukakan oleh dua ekonom Swedia yaitu Eli Hechkscher dan Bertil Ohlin yang menyatakan bahwa perbedaan dalam opportunity cost suatu negara dengan negara lain karena adanya perbedaan dalam jumlah faktor produksi yang dimilikinya. Teori ini dikenal dengan teori Hechkscher Ohlin atau Teori H – O (Krugman, 1993: 86). Teori H – O merupakan model terkenal tentang menganalisis perdagangan antara dua negara, dimana tiap-tiap negara mempunyai karakteristik tersendiri (Halwani, 2005: 22).  
Suatu negara mempunyai tenaga kerja yang lebih banyak daripada negara lain, sedangkan negara lain mempunyai kapital yang jumlahnya lebih banyak daripada negara tersebut sehingga dapat menyebabkan terjadinya pertukaran (Nophirin, 1991: 20). Suatu negara misalnya A memiliki tenaga kerja yang besar dan relatif sedikit kapital, maka untuk sejumlah pengeluaran uang tertentu akan memperoleh jumlah tenaga kerja lebih banyak daripada kapital. Sebagai contoh uang sejumlah Rp 100,00 dapat dibeli 20 unit tenaga atau 5 unit mesin, jadi 20 unit tenaga sama dengan 5 unit mesin. Uang sebanyak 100 dapat dibeli kombinasi mesin, yang ditandai dengan titik-titik pada sumbu vertikal (tenaga) dan sumbu horizontal (mesin). Jika kedua titik ini dihubungkan dengan suatu garis lurus merupakan  suatu kurva yang sering disebut isocost, yakni berbagai kombinasi dua faktor produksi yang dapat dibeli dengan sejumlah tertentu uang (Nophirin, 1991: 20).

Sudut arah isocost ini menunjukkan perbandingan harga antara tenaga kerja dan mesin yaitu 20:5 atau 4:1 yang berarti 4 unit tenaga nilainya sama dengan 1 unit mesin. Kemudian, negara B lebih banyak mempunyai kapital/mesin dan relatif sedikit tenaga. Konsekuensinya di negara B pengeluaran Rp 100,00 akan memperoleh tenaga 10 unit atau 20 unit mesin, harga 1 unit tenaga sama dengan 2 unit mesin. Dengan demikian perbandingan harga tenaga dengan mesin adalah 1:2. Negara A akan lebih murah apabila memproduksi barang yang relatif menggunakan banyak tenaga dan sedikit kapital (labor intensif) dan Negara B lebih murah apabila memproduksi barang yang relatif menggunakan banyak kapital dan sedikit tenaga kerja (capital intensive) (Nophirin, 1991: 21).
Masalah selanjutnya tidak hanya barang yang akan dihasilkan oleh suatu negara tetapi bagaimana barang dihasilkan. Maka hal ini dapat dijelaskan dengan kurva isoquant negara A dan B untuk barang X dan Y.
Isoquant negara A terletak dekat sumbu vertikal (tenaga) menunjukkan bahwa barang X yang dihasilkannya bersifat padat tenaga kerja (labor intensive). Hal tersebut karena negara A lebih banyak memiliki faktor produksi tenaga. Kemudian isoquant negara B mendekati sumbu horizontal (kapital) menunjukkan bahwa barang Y akan dihasilkan bersifat padat modal (capital intensive) karena negara B relatif lebih banyak memiliki kapital (Nophirin, 1991:21).

Sumber:
Halwani, Hendra. 2005. Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Krugman, Paul. 1993. Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan. 1993. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nophirin, Ph.D. 1991. Ekonomi Internasional Edisi 2. Yogyakarta: BFFE.

0 komentar:

Posting Komentar