Inge Risky Hardianti
2013230030
Ekonomi Internasional
Teori Hechkscher – Ohlin
Pada teori sebelumnya yaitu teori klasik menerangkan comparative
advantage dalam bentuk produktivitas dari tenaganya (labor produktivity). Teori yang lebih modern dikemukakan oleh dua
ekonom Swedia yaitu Eli Hechkscher dan Bertil Ohlin yang menyatakan bahwa
perbedaan dalam opportunity cost suatu negara dengan negara lain karena adanya
perbedaan dalam jumlah faktor produksi yang dimilikinya. Teori ini dikenal
dengan teori Hechkscher Ohlin atau Teori H – O (Krugman, 1993: 86). Teori H – O
merupakan model terkenal tentang menganalisis perdagangan antara dua negara,
dimana tiap-tiap negara mempunyai karakteristik tersendiri (Halwani, 2005: 22).
Suatu negara mempunyai tenaga kerja yang lebih banyak
daripada negara lain, sedangkan negara lain mempunyai kapital yang jumlahnya
lebih banyak daripada negara tersebut sehingga dapat menyebabkan terjadinya
pertukaran (Nophirin, 1991: 20). Suatu negara misalnya A memiliki tenaga kerja
yang besar dan relatif sedikit kapital, maka untuk sejumlah pengeluaran uang
tertentu akan memperoleh jumlah tenaga kerja lebih banyak daripada kapital.
Sebagai contoh uang sejumlah Rp 100,00 dapat dibeli 20 unit tenaga atau 5 unit
mesin, jadi 20 unit tenaga sama dengan 5 unit mesin. Uang sebanyak 100 dapat
dibeli kombinasi mesin, yang ditandai dengan titik-titik pada sumbu vertikal
(tenaga) dan sumbu horizontal (mesin). Jika kedua titik ini dihubungkan dengan
suatu garis lurus merupakan suatu kurva
yang sering disebut isocost, yakni berbagai kombinasi dua faktor produksi yang
dapat dibeli dengan sejumlah tertentu uang (Nophirin, 1991: 20).
Sudut arah isocost ini menunjukkan perbandingan harga
antara tenaga kerja dan mesin yaitu 20:5 atau 4:1 yang berarti 4 unit tenaga
nilainya sama dengan 1 unit mesin. Kemudian, negara B lebih banyak mempunyai
kapital/mesin dan relatif sedikit tenaga. Konsekuensinya di negara B
pengeluaran Rp 100,00 akan memperoleh tenaga 10 unit atau 20 unit mesin, harga
1 unit tenaga sama dengan 2 unit mesin. Dengan demikian perbandingan harga
tenaga dengan mesin adalah 1:2. Negara A akan lebih murah apabila memproduksi
barang yang relatif menggunakan banyak tenaga dan sedikit kapital (labor intensif) dan Negara B lebih murah
apabila memproduksi barang yang relatif menggunakan banyak kapital dan sedikit
tenaga kerja (capital intensive)
(Nophirin, 1991: 21).
Masalah selanjutnya tidak hanya barang yang akan
dihasilkan oleh suatu negara tetapi bagaimana barang dihasilkan. Maka hal ini
dapat dijelaskan dengan kurva isoquant negara A dan B untuk barang X dan Y.
Isoquant negara A terletak dekat sumbu vertikal (tenaga)
menunjukkan bahwa barang X yang dihasilkannya bersifat padat tenaga kerja (labor intensive). Hal tersebut karena negara
A lebih banyak memiliki faktor produksi tenaga. Kemudian isoquant negara B
mendekati sumbu horizontal (kapital) menunjukkan bahwa barang Y akan dihasilkan
bersifat padat modal (capital intensive)
karena negara B relatif lebih banyak memiliki kapital (Nophirin, 1991:21).
Sumber:
Halwani, Hendra. 2005. Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Krugman, Paul. 1993. Ekonomi
Internasional Teori dan Kebijakan. 1993. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Nophirin, Ph.D. 1991. Ekonomi
Internasional Edisi 2. Yogyakarta: BFFE.








0 komentar:
Posting Komentar