Sabtu, 05 Maret 2016

Teori Perdagangan Internasional

Tugas Ekonomi Internasional / Tika Oktaviani 2012310013
Sumber buku: Halwani, Hendra, Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi, Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002
TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Latar Belakang Perdagangan Internasional
Perdagangan antarnegara atau lebih dikenal dengan perdagangan internasional, sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, namun dalam ruang lingkup dan jumlah yang terbatas, dimana pemenuhan kebutuhan setempat, yang tidak dapat diproduksi, dipenuhi dengan cara barter. Pada proses awalnya perdagangan internasional merupakan pertukaran dalam arti perdagangan tenaga kerja dengan barang dan jasa lainnya, yang selanjutnya diikuti dengan perdagangan barang dan jasa dikemudian hari. Akhirnya berkembang hiingga pertukaran antaranegara / internasionnal dengan aset-aset yang mengandung resiko seperti saham. Valuta asing dan obligasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak, bahkan semua negara yang terkait didalamnya. Adapun sebab-sebab umum yang mendorong terjadinya perdagangan internasional yaitu sumber daya alam, sumber daya modal, tenaga kerja dan teknologi.

Revolusi Industri
Revolusi industri di Inggris, telah membawa Inggris menjadii negara yang paling handal di dunia dalam perdagangan internasional. Industrialisasi ini menimbulkan negara-negara pesaing maupun negara partner dagangannya sehingga menimbulkan ketidakseimbangan perdagangan di antara negara-negara dikawasan Eropa, terutama Belanda dan beberapa negara lainnya. Negara-negara yang baru memasuki proses industrialisai merasakan tekanan perdangan yang tidak seimbang dari serbuan barang-barang impor, terutama dari Inggris. Sehingga mereka mulai menerapkan pengenaan tarif sebagai upaya melindungi industry dalam negeri yang masih dalam taraf pemula. Dalam perkembangan selanjutnya, negara-negara berkembang  di kawasan ASEAN juga mengikuti mashab proteksionisme untuuk pengembangan industri-industri yang baru tumbuh dengan perlindungan tarif dan tata niaga impor.

Merkantilisme
Dalam perdagangan internasional terdapat beberapa aliran pemikiran, dimulai dari aliran pemikiran yang dikenal sebagai aliran merkantilisme. Oleh karena itu, kegiatan ekspor-impor diletakan sebagai lokomotif utama yang dipacu melalui peningkatan industri dalam negeri. Sehingga aliran mekantilisme mengetengahkan pemikiran bahwa kegiatan produksi dalam negeri dan ekspor harus ditingkatkan dengan memberikan rangsangan berupa subsidi dan fasilitas-fasilitas lain dari pemerintah. Sebaliknnya impor harus dibatasi melalui serangkaian hambatan impor yang berupa proteksi hingga perlindungan khusus, khususnya untuk industri-industri strategis maupun industri rakyat.

Teori Keunggulan Mutlak ( Absolut Advantage)
Suatu negara dapat memproduksi barang tertentu, misalnnya barang M yang mempunyai keunggulan dalam bidang pengolahan (manufacture) dibbandingkan dengan negara mitra dagangnya yang mempunyai keunggulan dalam memproduksi barang X yang merupan komoditas pertanian (primer). Maka masing-masing negara tersebut menkonsentrasikan produksi mereka pada barang-barang yang secara mutlak (absolut) mempunyai keunggulan. Kemudiangan mengekspor barang tersebut kepada mitra dagangnya. Proses inilah yang dijadikan dasar utama perdagangan internasional.

Konsep Opportunity Cost
Opportunity Cost dapat diartikan sebagai biaya oportunitas (kesempatan) yang merupakan ukuran suatu kesempatan yang terlepas karena menolak alternative penggunaan sumber daya. Konsep biaya kesempatan ini sangat penting dalam pengambilan keputusan. Ada 2 model opportunity cost yaitu increasing opportunity cost (biaya opportunitas yang semakin meningkat) dan decreasing opportunity cost (biaya oportunitas yang semakin menurun).

Teori Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage)
Dalam analisis teori keunggulan komparatif dinyatakan bahwa, yang menentukan tingkat keuntungan dalam perdangan internasional sebenernya bukan berasal dari keunggulan mutlak, melainkan teori keunggulan komparatif. Pendekatan Teori Adam Smith menyatakan bahwa tiap negara mempunyai keunggulan mutlak dalam memproduksi suatu barang.

0 komentar:

Posting Komentar