MAKALAH KELOMPOK 10
“PASAR VALUTA ASING : INVESTASI”
MATA KULIAH
EKONOMI INTERNASIONAL
DISUSUN OLEH :
ZIKA PUSPITA SARI 2013310026
PUTRI RAMADHANI 2013310036
ADE PUTRI MAYANG SARI 2013230026
MARTHA MAGHFIROH 2014230121
NADYA AYU ARMINTA 2015230108
ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
INSTITUT ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tahun 1944, lahirnya sistem moneter internasional yang dikenal dengan
nilai tukar tetap (fixed exchangerate) hasil dari persetujuan Bretton wood system
sebagai awal perbaikan stabilitas ekonomi yang lebih baik pasca perang dunia ke-I.
Setiap Negara memberlakuakan kurs tetap mata uangnya terhadap dolar US. Hal
tersebut membawa pengaruh positif pada sektor ekonomi Negara-negara Eropa serta
Amerika Serikat. Selain itu Euro Dollar dan Asia Currency juga muncul utuk
mengimbangi peredaran dollar US yang semakin pesat.
Runtuhnya BWS menyebabkan berlakunya mata uang mengambang bebas (floating
exchangerate) yang
mekanismenya tergantung pada permintaan dan penawaran pasar. Teorinya, setiap
mata uang dapat digunakan untuk menentukan nilai tukar, akan tetapi kenyataan
yang selalu terjadi adalah dollar Amerika Serikat memiliki peranan utama
sebagai aset cadangan utama dari banyak Negara, sebagai alat mata uang dan
sebagai mata uang untuk intervensi. Peranan ini berlanjut, meskipun yen
(Jepang), Euro, dan Poundsterling mulai memiliki peranan tersebut.
Aktivitas pasar valuta asing menjadi penting seiringan dengan
berkembangnya perdagangan internasional dan semakin meningkatnya perpindahan
uang. Valuta asing bukan lagi hanya sekedar pertukaran mata uang, sehingga
dapat dikatakan valuta asing adalah suatu pasar dimana surat-surat berharga
jangka pendek diperdagangkan. Dalam perkembangannya uang berkembang menjadi
komoditas yang bias diperdagangkan.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1.
Apa itu valuta asing dan bagaimana mekanisme dari
pasar valuta asing?
1.2.2.
Bagaimana pengaruh menguatnya dollar terhadap
valuta asing?
1.2.3.
Bagaimana pengaruh menguatnya dollar terhadap
rupiah?
1.3. Tujuan
1.3.1.
Mengetahui penjelasan tentang valuta asing.
1.3.2.
Mengetahui pengaruh apresiasi dollar terhadap
valuta asing.
1.3.3.
Mengetahui pengaruh apresiasi dollar terhadap
rupiah.
BAB II
KONSEP
2.1. Pengertian Valuta Asing
Valuta Asing atau foreign
exchange atau pun foreign currency
adalah sebutan untuk mata uang asing yang digunakan sebagai transaksi
pembayaran ataupun yang lainnya dalam transaksi internasional serta keuangan
internasional yang biasanya mempunyai catatan kurs resmi pada Bank Sentral.
Mata uang yang di gunakan terbagi menjadi dua yaitu soft currency dan hard
currency. Soft Currency adalah mata
uang lemah yang jarang digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung
karena nilainya relatif tidak stabil dan sering mengalami depresi atau
penurunan nilai terhadap mata uang lainnya. Soft currency, ini pada umumnya
berasal dari negara-negara yang sedang berkembang seperti rupiah – Indonesia,
peso – Filipina, bath – Thailand, dan rupee – India. Sedangkan Hard Currency
adalah Mata uang yang sering digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan
hitung dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional. mata uang yang
nilainya relatif dan kadang-kadang mengalami apresiasi atau kenaikan nilai
terhadap mata uang lainnya. Hard currency pada umumnya berasal dari
negara-negara maju, seperti Dolar Amerika / USD, Poundsterling Inggris / GBP,
Euro Dolar / EUR, Swiss Franc / CHF, Japanese Yen / JPY, Australian Dolar /
AUD, Canadian Dolar / CAD.
Total Valas
yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta dari suatu negara juga dikatakan
sebagai cadangan devisa. Cadangan tersebut dapat diketahui dari posisi balance of payment
(BOP) atau neraca pembayaran internasionalnya. Makin banyak devisa yang
dimiliki pemerintah atau swasta disuatu negara maka akan semakin baik pula
kemampuan negara tersebut dalam melakukan transaksi ekonomi dan semakin kuat
pula nilai mata uang negara tersebut. Cadangan Devisa ini dikelompokkan menjadi
dua, yaitu:
2.1.1. Cadangan
Devisa Resmi (official
forex reserve)
Cadangan
devisa milik negara yang dikelola, dikuasai, dan di urus oleh Bank Sentral/Bank
Indonesia.
2.1.2. Cadangan
Devisa Nasional (Country
forex reserve)
Seluruh
Devisa dimiliki oleh perorangan, badan, atau, lembaga yang secara moneter
merupakan kekayaan nasional.
2.2. Jenis-jenis Valuta Asing
Pasar
valas dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:
2.2.1
Pasar Spot (Pasar Tunai)
Menurut Madura (2000:58-66) kurs spot adalah nilai
tukar berjalan suatu valuta. Kemudian yang dimaksud pasar spot adalah pasar
yang memfasilitasi transaksi-transaksi nilai tukar berjalan suatu valuta.
Dimana komoditi atau valas dijual secara tunai dengan penyerahan segera.
Disebut juga actual market atau physical market Menurut Kuncoro (1996:106-107)
transaksi spot terdiri dari transaksi valas yang biasanya selesai dalam
maksimal dua hari kerja. Dalam pasar spot, dibedakan atas tiga jenis transaksi:
a)
Cash, dimana pembayaran satu mata uang dan pengiriman mata uang lain
diselesaikan dalam hari yang sama
b)
Tom (kependekan dari tomorrow/besok), dimana pengiriman dilakukan pada hari
berikutnya
c)
Spot, dimana pengiriman diselesaikan dalam tempo 48 jam setelah perjanjian.
Menurut Hamdi (2000:20) contoh transaksi spot yaitu
pada tanggal 22 Desember 1996 seorang ayah membutuhkan US$ 10.000 untuk uang
saku anaknya yang akan sekolah diluar negeri. maka seorang ayah tersebut dapat
menghubungi bank-bank devisa atau money changer untuk dapat mengetahui dan
membuat kesepakatan selling price pada tanggaltersebut. Apabila telah tercapai
kesepakatan selling price pada tanggal 22 Desember 1996 adalah US$1 = Rp 5.500
maka perhitungannya: Jumlah Rupiah yang dibutuhkan = US$ yang dibutuhkan x
selling price= US$ 10.000 x Rp 5.5000
= Rp 55.000.000,-maka untuk mendapatkan US$ 10.000 diperlukan Rp 55.000.000,-
yang harus diserahkan paling lambat tanggal 24 Desember 2004 (2 x 24 jam atau t
+2).
2.2.2. Pasar Forward
Menurut Madura (2000:58-66) Kurs forward adalah nilai
tukar suatu valuta dengan valuta lain pada suatu waktu di masa depan yang
dikuotasikan oleh bank-bank. Kemudian yang dimaksud Pasar Forward adalah pasar
yang memfasilitasi perdagangan kontrak forward mata uang. Menurut Kuncoro
(1996:106-107) transaksi forward merupakan transaksi valas dimana pengiriman
mata uang dilakukan pada suatu tanggal tertentu di masa datang. Kurs dimana
transaksi forward akan diselesaikan telah ditentukan pada saat kedua belah
pihak menyetujui kontrak untuk membeli dan menjual. Waktu antara ditetapkannya
kontrak dan pertukaran mata uang yang sebenarnya terjadi dapat bervariasi dari
dua minggu hingga satu tahun. Jatuh tempo kontrak forward biasanya satu, dua,
tiga atau enam bulan. Transaksi forward biasanya terjadi bila eksportir,
importir, atau pelaku ekonomi lain yang terlibat dalam pasar valas harus
membayar atau menerima sejumlah mata uang asing pada suatu tanggal tertentu di
masa mendatang.
Menurut Madura (2000:63) contoh transaksi forward
yaitu apabila suatu perusahaan akan membutuhkan 1 juta Mark Jerman, 90 hari
dari sekarang untuk mengimpor barang dari Jerman. Asumsikan bahwa perusahaan
tersebut dapat langsung membeli Mark Jerman untuk pengiriman langsung (yaitu,
dari pasar spot) dengan kurs spot $0,50 per Mark. Berdasarkan kurs spot ini
maka perusahaan membutuhkan $500.000 ($0,50 per Mark x 1.000.000). namun
perusahaan belum memiliki dana saat ini juga untuk membeli Mark. Perusahaan
dapat menunggu 90 hari dan kemudian menukarkan US Dolar dengan Mark menurut
kurs yang berlaku saat itu. Tetapi perusahaan tidak mengetahui berapa kurs spot
90 hari dari sekarang. Jika naik menjadi $0,60 per Mark, perusahaan akan
membutuhkan $600.000 ($0,60 per Mark x 1.000.000 Mark). Dengan danya ini maka
perusahaan akan merugi sebesar $100.000. akan lebih baik perusahaan mengunci
kurs untuk 90 hari dari sekarang. Dimana kurs forward 90 hari sekarang adalah
$0,51 per mark, maka perusahaan dapat melakukan perjanjian kontrak forward
dengan menggunakan kurs forward 90 hari dari sekarang. Sehingga dana yang
dibutuhkan perusahaan sebesar
$510.000 ($0,51 per Mark x 1.000.000 Mark). Maka dengan mengunci kurs,
perusahaan tidak perlu khawatir dengan adanya perubahan kurs spot 90 hari ke
depan.
2.2.3 Pasar Currency
Futures
Menurut Madura (2000:67-68) pasar Currency Futures
merupakan pasar yang memfasilitasi perdagangan kontrak Currency Futures. Suatu
kontrak Currency Futures menetapkan suatu volume standar dari suatu valuta
tertentu yang akan dipertukarkan pada tanggal penyelesaian (settlement date)
tertentu di masa depan. Sebuah MNC (multi national corporation) yang ingin meng-hedge
hutangnya akan membeli kontrak Currency Futures untuk mengunci harga suatu
valuta di masa depan
Menurut Kuncoro (2000:123) contoh transaksi futures
yaitu sebuah korporasi AS, yang pada tanggal 2 Januari menyadari kebutuhan akan
450.000 mark untuk tanggal 11 Februari (40 hari kemudian). Jika korporasi
tersebut berupaya untuk mengunci harga pembelian mark di masa depan dengan
kontrak futures, tanggal penyelesaian kontrak adalah hari Rabu ketiga bulan
Maret. Selain itu, jumlah Mark yang dibutuhkan (450.000) lebih tinggi dari
jumlah standarnya (125.000). Hal yang terbaik yang bisa dilakukan korporasi
adalah membeli 3 kontrak futures-mark (dengan total 375.000 Mark) atau 4
kontrak futures-mark (500.000).asumsikan bahwa pada tanggal 11 Januari, harga futures-mark
untuk bulan Maret adalah $0,5900. dengan membeli kontrak futures ini pada
tanggal 2 Januari, perusahaan wajib membeli Mark seharga $0,5900 per Mark pada
hari Rabu ketiga bulan Maret. Di lain pihak, siapa pun yng menjual kontrak
futures ini pada tanggal 11 Januari wajib mengirimkan (menjual)Mark dengan
harga $0.5900 per Mark pada hari Rabu ketiga bulan Maret. Karena satu unit
kontrak futures-mark bernilai $125.000 Mark, maka perusahaan harus membeli 3
atau 4 unit kontrak futures-mark. Maka jumlah Dolar yang dibutuhkan adalah
$221.500 (3 unit kontrak futures-mark x $125.000 x $0,5900) atau 295.000 (4
unit kontrak futures-mark x $125.000 x $0,5900).
2.2.4. Pasar Currency Options
Menurut Madura (2000:67-68) menjelaskan pasar Currency
Options merupakan pasar yang memfasilitasi perdagangan kontrak currency
options. Kontrak currency options dapat diklasifikasikan sebagai call atau put.
Suatu currency call Options menyediakan hak untuk membeli suatu valuta tertentu
dengan harga tertentu (yang dinamakan dengan strike price atau exercise price)
dalam suatu periode waktu tertentu. currency call
options digunakan untuk meng-hedge hutang-hutang valas yang harus dibayarkan di
masa depan. currency put options memberikan hak untuk menjual suatu valuta
asing dengan harga tertentu dalam suatu periode waktu tertentu. Currency put
options digunakan untuk meng-hedge piutang-piutang valas yang akan diterima di
masa depan.
Menurut Madura (2000:131) contoh dari transaksi
currency call options yaitu ada kemungkinan perusahaan sebuah perusahaan akan
membutuhkan valuta asing di masa depan, tetapi perusahaan tidak begitu yakin.
Sebagai contoh, anggaplah sebuah perusahaan AS terlibat dalam tender sebuah
poyek di Jerman. Jika proyek tersebut jatuh kepada perusahaan tersebut maka
perusahaan akan membutuhkan kira-kira DM625.00 untuk membeli bahan baku dan
jasa di Jerman, namun perusahaan tidak tahu apakah tawaran akan diterima atau
tidak sampai tiga bulan ke depan. Asumsikan bahwa exercise price bagi Mark
adalah $0,50 dan premium call option-nya adalah $ 0,02 per unit. Perusahaan
akan membayar $1250 per opsi (62.500 x $0.02) atau $12.500 untuk 10 kontrak.
Dengan adanya opsi tersebut, jumlah maksimum pengeluaran US Dolar untuk membeli
Mark adalah $312.500 (62.500 x $0,5).
2.3. Fungsi Pasar Valuta Asing
Pasar valuta
asing mempunyai beberapa fungsi pokok dalam membantu kelancaran lalu lintas
pembayaran internasional, antara lain:
2.3.1.
Mempermudah penukaran
valuta asing serta pemindahan dana dari satu negara ke negara lain. Proses
penukaran atau pemindahan dana ini dapat dilakukan dengan sistem “clearing”
seperti halnya yang dilakukan oleh bank-bank serta para pedagang.
2.3.2.
Karena sering terdapat
transaksi internasional yang tidak perlu segera diselesaikan pembayaran dan
atau penyerahan barangnya, maka pasar valuta asing memberikan kemudahan untuk
dilaksanakannya perjanjian / kontrak jual beli dengan kredit.
2.3.3.
Memungkinkan dilakukannya “hedging”.
Seseorang pedagang melakukan hedging apabila dia pada saat yang sama
melakukan transaksi jual dan beli valuta asing di pasar yang berbeda, untuk
menghilangkan / mengurangi risiko kerugian akibat perubahan kurs.
2.4. Sistem Kurs Valuta Asing
Sekilas mengenai sistem kurs valuta asing yaitu,
Sejak tahun 1944 sampai dengan akhir tahun 60-an, sistem kurs valuta asing atau
bisa desebut sistem moneter internasional didasarkan pada Fixed
Exchange rate (sistem kurs tetap). Sistem ini
dekenal dengan sistem Bretton Woods, karena didasarkan pada perjanjian yang
disetujui oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dengan bank dunia (IBRD).
Sistem ini juga dikenal sebagai Standar Tukar Emas, karena banyak negara yang
memegang emas dan devisa, khususnya Dollar Amerika sebagai cadangannya. Namun
sejak tahun 60-an sistem ini tidak dipergunakan lagi dan beralih menggunakan
sistem kurs mengambang (floating exchange rate).
Sitem Kurs Valuta Asing memiliki sifat yang sangat
bergantung pada sifat pasar atau dapat dikatakan fluktuatif. Hal tersebut
disebabkan oleh, pertama, apabila transaksi jual beli valuta asing dapat
dilakukan secara bebas di pasar, maka kurs valuta asing akan berubah-ubah
sesuai dengan perubahan dari permintaan dan penawaran. Kedua, apabila
pemerintah menjalankan kebijaksanaan stabilisasi kurs, tetapi tidak dengan
mempengaruhi transaksi swasta, maka kurs ini hanya berubah-ubah di dalam batas
yang kecil. Meskipun batas-batas ini dapat diubah dari waktu ke waktu.
Pemerintah dapat juga menguasai sepenuhnya transaksi valuta asing. Dalam hal
ini kurs tidak lagi dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Sistem ini
disebut exchange control. Di dalam sistem moneter standar emas kurs valuta
asing relatif tetap atau hanya berubah-ubah dalam batas-batas yang ditentukan
oleh ongkos angkut emas.
2.4.1.
Sistem Kurs yang Berubah-ubah
Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada
faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Permintaan valuta asing
diperlukan untuk melakukan transaksi pembayaran ke luar negeri (impor).
Permintaan valuta asing diturunkan dari transaksi debit dalam neraca pembayaran
internasional. sedangkan penawaran valuta asing berasal dari eksportir yakni
berasal dari transaksi kredit neraca pembayaran internasional.
Suatu mata uang dapat dikatakan kuat apabila
transaksi autonomous kredit lebih besar dari transaksi autonomous debit
(surplus necara pembayaran), dan sebaliknya suatu mata uang dapat dikatakan
lemah apabila neraca pembayarannya mengalami defisit. Transaksi autonomous
debit dan kredit dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun
luar negeri, termasuk harga, pendapatan dan tingkat bunga. Segala sesuatu yang
mempengaruhi ketiga faktor ini, baik dari dalam maupun luar negeri, akan
mempengaruhi kepada permintaan dan penawaran, yang pada gilirannya akan
mempengaruhi kurs valuta asing.
Semakin tinggi tingkat dari pertumbuhan pendapatan,
semakin besar kemungkinan untuk impor, yang berarti makin besar pula permintaan
dari valuta asing. Kurs valuta asing akan cenderung naik (harga mata uang
sendiri turun). Demikian juga inflasi, akan menyebabkan impor naik dan ekspor
turun yang akan mengakibatkan kurs valuta asing naik Kenaikan tingkat bunga
dalam negeri cenderung menarik modal masuk dari luar negeri. Kurs valuta asing
akan cenderung turun.
Semua kegiatan ekonomi dan kebijaksanaan pemerintah
yaitu fiskal dan moneter, yang mempengaruhi pendapatan, harga serta tingkat
bunga secara tidak langsung akan mempengaruhi kurs. Kebijaksanaan pemerintah
akan menaikkan pendapatan dan harga akan menyebabkan impor naik, yang artinya
akan menekan permintaan valuta asing. Selanjuatnya kurs valuta asing akan naik.
Kemudian dari faktor non-ekonomi yang dapat mempengaruhi perubahan kurs,
seperti faktor politis dan psikologi. Misalnya, kepanikan yang terjadi di dalam
negeri akan menyebabkan larinya dana ke luar negeri, sehingga kurs valuta asing
akan naik.
2.4.2.
Sistem Kurs yang Stabil
Sistem kurs yang stabil dapat timbul secara Aktif dan Pasif:
a.
Aktif, yakni pemerintah menyediakan dana untuk
tujuan stabilisasi kurs (stabilization funds).
Kegiatan dari stabilisasi kurs dapat dijalankan
dengan cara sebagai berikut : apabila tendensi kurs valuta asing akan turun
maka pemerintah membeli valuta asing dipasar. Dengan tambahnya permintaan dari
pemerintah maka tendensi kurs turun dapat dicegah. Sebaliknya apabila tendensi
kurs naik, maka pemerintah menjual valuta asing di pasar sehingga penawaran valuta
asing bertambah dan kenaikan kurs dapat dicegah.
Usaha untuk mencegah kenaikan kurs valuta asing
bagi pemerintah lebih sukar, karena cadangan valuta asing yang dimiliki
terbatas. Keterbatasan ini mungkin menyebabkan pemerintah tidak bisa sepenuhnya
untuk mengembalikan kurs ke tingkat yang dikehendaki. Sedangkan usaha untuk
mencegah penurunan kurs lebih mudah dijalankan sebab pembelian valuta asing
oleh pemerintah dilakuakan dengan menggunakan cadangan mata uang sendiri.
Besarnya cadangan mata uang sendiri di bawah kekuasaan/pengawasan pemerintah,
bahkan kalau kekurangan pemerintah dapat mencetak uang.
b.
Pasif, yakni didalam suatu negara yang menggunakan
sistem standar emas.
Suatu negara dikatakan memakai standar emas apabila
nilai mata uangnya dijamin dengan nilai seberat emas tertentu, setiap orang
boleh membuat serta melebur uang emas, dan pemerintah sanggup membeli atau
menjual emas dalam jumlah yang tidak terbatas pada harga tertentu yaitu yang
sudah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam sistem standar emas kurs mata uang
suatu negara terhadap negara lain ditentukan dengan dasar emas
2.4.3.
Pengawasan Devisa
Dalam sistem ini pemerintah memonopoli seluruh
transaksi valuta asing. Tujuannya adalah untuk mencegah adanya aliran modal
keluar dan melindungi pengaruh depresi dari negara lain, terutama dalam hal
negara tersebut menghadapi keterbatasan cadangan valuta asing dibanding dengan
permintaannya. Menghadapi jumlah valuta asing yang relatif lebih sedikit
dibandingkan dengan permintaannya, pemerintah perlu mengadakan alokasi di dalam
pengggunaannya, yakni untuk tujuan-tujuan yang sesuai dengan program
pemerintah. Alokasi biasanya dilakukan dengan menggunakan lisensi impor.
Di dalam pengawasan devisa (exchange
control) pemerintah menetapkan kurs suatu mata uang itu, sebagai berikut:
1.
Hanya satu jenis saja, tidak tergantung pada tujuan
dari penggunaan devisa tersebut. Sistem ini disebut single
exchange rate system. Dalam hal ini exchange rate tidak mempunyai peranan atau fungsi yang
penting di dalam alokasi devisa untuk berbagai transaksi, permintaan, dan
negara.
2.
Lebih dari satu macam kurs, tergantung daripada
tujuan penggunaannya, misalnya:
$1 = Rp. 600,00; untuk impor barang-barang yang essensiil
$1 = Rp. 800,00; untuk impor barang-barang yang nonessensiil.
Sistem ini disebut multiple
exchange rate. Sebenarnya di dalam sistem ini terdapat banyak sekali cara penentuan
exchanger rate, diantaranya terdapat dua bentuk yaitu:
-
Dua atau lebih kurs/exchange rate yang bebas untuk
mengalokasikan devisa dengan beberapa pengawasan yang tidak ketat.
-
Dua atau lebih kurs resmi (official rate) tetap,
yang biasanya dilengkapi dengan sistem lisensi impor serta impor quota.
Di dalam mengadakan alokasi penggunaan devisa,
pemerintah dapat menggunakan beberapa cara, antara lain:
1. Individual
allocation : setiap pemohon devisa (importer) diadakan penelitian tentang
penggunaannya. Apabila pemohon tersebut disetujui lalu diberikan izin untuk
membeli sejumlah tertentu devisa.
2. Exchange
quota : untuk setiap kategori impor ditentukan jumlah devisanya berdasarkan
devisa yang akan diperoleh dari ekspor dalam waktu tertentu. Apabila devisa
sudah tersedia, lalu dijual dengan prinsip yang datang dulu dilayani sampai
jatah untuk kategori impor tersebut habis
3. Waiting
list : ini merupakan pelengkap cara sebelumnya. Setiap surat pemohon
pembelian devisa ditempatkan dalam daftar menunggu (waiting list) sampai devisa
tersedia.
Pada umumnya tujuan suatu negara menjalankan pengawasan devisa adalah:
1.
Mencegah terjadinya aliran modal ke luar negeri dan
menekan Neraca Pembayaran Internasional (NPI) yang disequilibrium. Apabila
suatu negara tidak menghendaki penyemimbangan NPI yang defisit dengan politik
deflasi ataupun devaluasi, maka harus diadakan penekanan terhadap defisit
tersebut dengan cara mengawasi langsung semua transaksi internasional.
2.
Melindungi industri di dalam negeri. Dengan
pembatasan impor maka pengawasan devisa mempunyai tujuan untuk melindungi
industri dalam negeri dari persaingan industri luar negeri
3.
Memperoleh pendapatan bagi pemerintah. Hal ini
dilakukan oleh pemerintah dengan cara menetapkan kurs (exchange rate) yang
berbeda antara pembelian dan penjualan. Kurs pembelian oleh pemrintah
ditetapkan lebih rendah daripada kurs penjualan. Perbedaan kurs inilah yang
merupakan pendapatan bagi pemerintah.
4.
Tie In Arragement: penggunaan devisa untuk impor
barang tertentu, tetapi dengan syarat importer harus juga membeli barang
pelengkap atau barang yang sama hasil produksi di dalam negeri dalam proporsi
tertentu.
2.5. Pelaku Valuta Asing
2.5.1.
Perusahaan
Adanya kegiatan ekspor dan impor dalam suatu
perusahaan menyebabkan perusahaan memerlukan mata uang negara lain ataupun mata
uang yang biasa digunakan dalam bertransaksi dengan negara lain. Dalam
perbedaan mata uang ini lah Valuta Asing dibutuhkan dalam bertransaksi.
2.5.2.
Individu
Para
individu juga bisa memanfaatkan keberadaan Valuta Asing dengan beberapa sebab.
Kegiatan spekulasi, yaitu dengan memanfaatkan fluktuasi pergerakan nilai valuta
asing untuk memperoleh keuntungan. Serta kebutuhan konsumsi pada saat berada di
luar negeri juga menjadi penyebab individu memerlukan mata uang asing.
2.5.3.
Bank Umum
Bank umum disini bersifat melayani masyarakat dalam
menukarkan dan juga yang memerlukan mata uang asing. Perbankan adalah pelaku pasar valas yang
terbesar dan paling aktif. Perbankan beroperasi dalam pasar valas lewat para
pedagangnya. Istilah teknis untuk menyebut para pedagang ini adalah exchange
dealer atau exchange trader.
2.5.4.
Pialang Pasar Valas atau Broker
Broker adalah perantara dalam
perusahaan untuk menukarkan mata uang asing. Pialang pasar valas adalah perantara
yang menghubungkan antara pihak yang membutuhkan dan menawarkan valas di pasar
valas. Untuk jasa perantara, pialang mengenakan biaya yang telah disepakati,
yang disebut brokerage. Salah satu modal dasar dasar pialang adalah
penguasaannya atas informasi pasar. Informasi sempurna karena dapat
mempertemukan berbagai pelaku pasar valas inilah yang membuat pasar valas
menjadipasar yang efisien.
2.5.5.
Pemerintah
Disini pemerintah melakukan
transaksi dengan mata uang luar negeri untuk membayar hutang piutang ataupun
menerima pemasukan dan pembayaran dari ataupun ke luar negeri.
2.5.6.
Bank Sentral
Disini Bank sentral melakukan jual beli valuta asing dalam rangka
menstabilkan nilai tukar mata uangnya yang biasa disebut dengan kegiatan
intervensi. Tujuan utama Bank Sentral adalah
mempengaruhi nilai mata uangnya dan nilai mata uang penting lain agar bergerak
sesuai dengan nilai yang menurut Bank Sentral tersebut sesuai dengankepentingan
ekonomi negaranya.
2.5.7. Spekulan
dan Arbitraser
Arbitraser
adalah orang yang mengeksploitasi perbedaan kurs antar valas. Peran serta
Spekulan dan arbitraser dalam pasar valas semata-mata didorong oleh motif
mengejar keuntungan. Mereka justru menuai laba dari fluktuasi drastis yang
terjadi di pasar valas. Dengan kata lain, mereka tidak mempunyai transaksi
bisnis atau komersial yang perlu dilindungi di pasar valas.
2.6. Ciri-ciri Pasar Valuta
Asing
Pasar valuta asing tidak terbatas pada suatu
negara tertentu. Pasar untuk poundsterling misalnya, meliputi
transaksi-transaksi dalam pound sterling baik di New York, Montreal, Zurich dan
lain-lain, serta transaksi-transaksi dalam valuta asing di London. Orang
biasanya selalu tergoda untuk memandang pasar valuta asing itu sebagai pasar
dimana seakan-akan ada ikatan geografisnya. Pandangan tersebut adalah salah.
Pasar valuta asing adalah pasar untuk suatu mata uang. Bila persedian poundsterling di New York
melebihi permintaannya di New York, tidak perlu terjadi perubahan kurs,
kelebihannya dapat dipergunakan untuk membeli dollar di New York.
2.7 MEKANISME PASAR VALUTA ASING
Kuncoro
(1996:107) mengatakan seandainya ada mata uang tunggal internasional,
barangkali pasar valas tidak diperlukan. Kenyataan
menunjukkan, dalam setiap transaksi internasional selalu digunakan valas.
Dengan kata lain ada kebutuhan untuk mengkonversi mata uang yang satu menjadi
mata uang lain. Inilah yang menimbulkan adanya permintaan akan transaksi valas.
Pasar valas dunia menawarkan mekanisme yang dapat menyelesaikan transaksi
kompleks dan beragam secara efisien. Perantara utama dalam pasar valas adalah
bank-bank utama yang beroperasi diseluruh dunia terutama yang berdagang valas.
Bank-bank ini dihubungkan dengan jaringan telekomunikasi yang sangat maju dan
canggih, dimana dapat menghubungkan bank-bank tersebut dengan klien utamanya
dan bank-bank lain diseluruh dunia. Tidak seperti di bursa saham yang memiliki
lantai perdagangan (trading
floor),
pialang-pialang berbagai bank dalam pasar valas tidak pernah bertemu dan
berhadapan secara langsung. Hanya telepon, modem, mesin faks, terminal computer, atau telex
yang menghubungkan permintaan dan penawaran valas.
Ada dua
tingkatan dalam pasar valas. Pertama, pasar konsumen/eceran (consumer/retail market), dimana
individu atau institusi membeli dan menjual valas kepada bank. Sebagai
contoh, bila IBM bermaksud merepatriasi keuntungan dari cabangnya di Jerman ke
AS, maka IBM dapat mendatangi sebuah bank di Frankfurt dengan tawaran menjual
DM yang dimilikinya untuk ditukarkan US$. Kedua, apabila bank tersebut tidak
memiliki jumlah US$ yang diinginkan, maka bank tadi akan mendatangi bank lain
untuk memperoleh Dolar sebagai ganti DM atau valas lain. Penjualan dan
pembelian semacam ini disebut pasar antar bank.
Dalam pasar
valas, tidak ada keseragaman. Dengan adanya transaksi diluar bursa perdagangan
(over the counter) sebagai
pasar tradisional dari perdagangan valuta asing, banyak sekali pasar valuta
asing yang saling berhubungan satu sama lainnya dimana mata uang yang berbeda
diperdagangkan, sehingga secara tidak langsung artinya bahwa “tidak ada kurs
tunggal mata uang dollar melainkan kurs yang berbeda-beda tergantung pada bank
mana atau pelaku pasar mana yang bertransaksi”. Namun dalam praktiknya,
perbedaan tersebut seringkali sangat tipis.
2.8 Kelebihan dan Kekurangan Valas
2.8.1.
Kelebihan Valas:
1. Transaksi
24-Jam
Tidak seperti
transaksi di pasar modal, pasar valas berjalan 24 jam sehari selama 5 hari
dalam seminggu.
2. Rendahnya
Biaya Transaksi
Biaya
transaksi di pasar valas secara online tidak ada, namun hanya dikenakan biaya
yang jumlahnya cukup beragam salah satu contohnya adalah biaya pada saat
penarikan dana dari akun forex.
3. Keuntungan
dari Kenaikan dan Penurunan Harga
Para trader
dapat menarik keuntungan dari kenaikan harga yaitu selisih antara harga beli
(ask/offer) dengan harga jual/harga penutupan (bid) pada pesanan beli (buying
order). Sedangkan pada pesanan jual (selling order), keuntungan didapat dari
selisih antara harga jual (bid) dengan harga beli/penutupan (ask/offer).
4. Marjin
Perdagangan
Perdagangan
dengan marjin dapat membuat daya beli investor melebihi jumlah modal yang
dimiliki.
5. Two
way opportunities
Anda dapat
menghasilkan keuntungan 2 arah, ketika market naik atau pun ketika market
turun. Hal ini tidak berlaku bagi investasi jenis lain (1 way opportunity),
sebagai contoh: saham.
6. Fungsi
Leverage (daya ungkit/faktor pengali)
Dengan modal
relatif kecil anda dapat menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar. Contoh:
tanpa leverage anda hanya akan mendapatkan $0.01/point dengan modal $100. Tapi
dengan leverage 1:100 maka anda dapat menghasilkan $1/point dengan modal yang
sama ($100). Resiko valas (forex).
2.8.2
Kelemahan
Valas
1. Risiko
Kurs Pertukaran (Exchange Rate Risk)
Risiko ini
timbul sebagai akibat dari naik-turunnya nilai tukar (kurs) valas.
2. Risiko
Negara Asal
Risiko ini
timbul dari akibat campur tangan pemerintah yang mata uangnya di perdagangkan
di pasar valas contohnya seperti intervensi bank sentral di negara tersebut
dengan menaikkan tingkat suku bunga, melepas obligasi pemerintah, pembelian
valuta asing secara besar-besaran oleh pemerintah dan sebagainya.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1. Studi
kasus : Nilai tukar rupiah tembus Rp14 ribu, pemerintah didorong siapkan
rencana darurat
Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang mencapai Rp14.050 per US$1
memang tak lepas dari fenomena ekonomi global. Namun pemerintah juga harus
melihat kinerja tim ekonomi dalam negeri. Devaluasi mengakibatkan terjadinya
perubahan struktural (tectonic shift) dalam pasar
finansial global. Rupiah pun terpengaruh oleh perubahan ini. Dari sektor
domestik, pelemahan ini juga disebabkan oleh isu-isu ekonomi yang relatif masih
sama, yaitu bagaimana pemerintah mempercepat belanja agar infrastruktur mulai
dibangun dan meyakinkan investor untuk melakukan investasi langsung. Namun
upaya melakukan investasi langsung ini terhambat oleh sentimen pasar yang masih
negatif terhadap Indonesia.
David selaku ekonom bank central asia, melihat potensi perekonomian
Indonesia sebenarnya masih bagus, namun hal itu bergantung pada kemampuan
pemerintah menjaga stabilitas harga pangan dan menghilangkan isu-isu yang
mengganggu stabilitas tersebut. Perombakan kabinet adalah upaya untuk melakukan
perubahan struktural tersebut meski butuh waktu untuk melihat hasilnya.
Pemerintah dan otoritas juga harus menyiapkan rencana darurat untuk menghadapi
kemungkinan terburuk, terutama dari sisi stabilitas harga pangan, mempercepat
belanja infrastruktur, dan meyakinkan investor. Pemerintah juga harus
menentukan langkah yang hendak diambil agar nilai tukar ke depan lebih stabil.
Sementara itu, pengamat mata uang Farial Anwar mengatakan bahwa meski
ada faktor eksternal yang bermain seperti spekulasi kenaikan suku bunga di AS, namun
kurs rupiah yang sudah mencapai Rp14.050 harus dilihat sebagai kondisi darurat.
Ia berharap pemerintah bekerja bersama dengan Bank Indonesia untuk melakukan
sinkronisasi antara sektor fiskal dengan moneter terutama dalam mengeluarkan
kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (BBCIndonesia.com).
3.2. Analisis
3.2.1.
Pengaruh Penguatan Dollar terhadap valuta asing
Nilai tukar sebuah mata uang,
pada dasarnya mencerminkan harga dari mata uang tersebut. Pada prinsipnya nilai
mata uang dipengaruhi oleh kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) antara
dua mata uang masing-masing Negara tersebut.
Nilai tukar yang ditentukan oleh
pasar akan berubah-ubah nilainya, tergantung dengan kebutuhan dan ketersediaan
mata uang tersebut. Jadi, jika permintaan mata uang meningkat maka mata uang
tersebut akan mengalami apresiasi, sebaliknya jika penawaran mata uang
meningkat maka matauang tersebut akan mengalami depresiasi. Valuta asing akan
menyesuaikan dengan system kurs yang dipakai suatu negara.
Misalnya suatu Negara menggunakan
system kurs mengambang bebas yang mekanismenya tergantung dengan permintaan dan
penawaran. Maka apabila suatu negara mengalami apresiasi dan sebaliknya mitra
dagangnya malah mengalami deflasi, pemerintah sebaiknya tidak menginterversi.
Jadi valuta asing menyesuaikan patokan harganya sendiri mengikuti pasar.
3.2.2.
Penyebab Rupiah melemah terhadap dollar AS pada
Agustus 2015
Setelah melalui
sejarah panjang akhirnya pada tahun 1949 rupiah resmi menjadi mata uang kebangsaan
Indonesia.Kebijakan kurs mengambang bebas di Indonesia dari waktu ke waktu
malah melemahkan rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian melemah,
bahkan semakin mengkhawatirkan ketika posisinya melampaui level lebih dari 13
ribu per dolar sehingga menjadi beban bagi pemerintah Joko Widodo.
Melemahnya rupiah, akan berdampak
pada valuta asing untuk melakukan ekspor-impor. Permintaan dan penawaran
menjadi rendah dikarenaka harga jual-beli tidak stabil. Dampaknya, Indonesia
yang merupakan negara berkembang, mudah terdepresiasi nilai mata uangnya karena
pengaruh penguatan mata uang negara maju, khususnya Amerika Serikat. Nilai Mata
uang Indonesia memiliki karakteristik tersendiri, yaitu soft currency yang artinya sensitif sekali
terhadap kondisi perekonomian internasional.
Bila menilik faktor penyebab jatuhnya rupiah, sulit menampik adanya pengaruh
perbaikan ekonomi Amerika Serikat yang bangkit dari lembah krisis 2008. Pada
Mei 2013 ketika Amerika mulai pulih, The Fed atau bank sentral Amerika
mengumumkan rencana memotong dana stimulus sehingga mendorong pelemahan mata
uang global, tak terkecuali rupiah. Pengaruh untuk indonesia dari perbaikan
ekonomi Amerika Serikat , yaitu:
1.
Dollar menguat
Pemulihan ekonomi Amerika Serikat pasca krisis 2008
membuat The Fed atau bank sentral Amerika menghembuskan rencana tappening off
atau pemangkasan quantitatife easing, yang biasa disebut stimulus ekonomi.
Rencana yang kemukakan Gubernur The Fed, Ben Bernake sejak mei 2013 itu menjadi
awal melemahnya mata uang global terhadap dolar AS karena supply dolar akan
berkurang.
Kebijakan yang diambil Amerika Serikat adalah
sebagai adalah sebagai berikut:
|
Quantitative easing
·
The Fed mencetak dolar lebih banyak.
·
The Fed mengguyurkan stimulus dengan membeli
obligasi.
·
Dolar mengalir ke pasar emerging market termasuk
indonesia.
·
Mata uang dunia menguat terhadap dolar.
|
Tapering off
·
Memotong stimulus.
·
Menaikan suku bunga.
·
The Fed menjual obligasi untuk menarik dana.
·
Dolar di penjuruh dunia kembali ke Amerika.
|
Penguatan dollar
·
Dolar langka tapi di buru untuk keperluan
transaksi.Mata uang global melemah terhadap dolar.
|
2.
Terus Tertekan oleh Sinyal Buruk The Fed
Nilai tukar
rupiah dan index harga saham gabungan (IHSG), mulai berfluktuasi tajam ketika
the fed mewancanakan pengurangan pembelian obligasi pada mei 2013. Muncul
kekhawatiran pemulihan ekonomi di amerika serikat akan berdampak pada kembalinya
modal dan mempengaruhi pasar keuangan dunia. Rupiah terus bergerak hingga
menembus level Rp.13.000 pada minggu ke 3 maret, 2015.
3.
Mata Uang Melemah Melanda Seluruh Dunia
Pemulihan ekonomi amerika serikat
yang diikuti dengan pemotongan stimulus oleh The Fed berdampak pada menguatnya
dollar terhadap hampir seluruh mata uang dunia. Bila dibandingkan dengan mata
uang lainnya, kondisi rupiah yang anjlok hingga 9,6 % tahun lalu bukanlah yang
terburuk, meski juga bukan yang menggembirakan.
4.
Booming Harga, Komoditas Telah Berlalu.
Pelemahan
mata uang dunia terhadap dolar Amerika membuat permntaan barang komoditas
menurun. Akibatnya, harga komoditas yang menjadi andalan ekspor indonesia
anjlok, dan berdampak pada neraca perdagangan yang pada akhir nya memperburuk
pelemahan rupiah.
5.
Kinerja Ekspor, Kian Merosot.
Pelemahan
rupiah ikut didorong oleh menurunnya kinerja ekspor indonesia. Ketika rupiah
melemah, seharusnya ekspor mengalami kenaikan. Namun karena produk ekspor
indonesia di dominasi barang komoditas yang harga dan permintaannya sedang
anjlok, maka kontribusi terhadap neraca perdagangan tidak signifikan, sehingga
mendorong pelemahan rupiah.
6.
Import Barang Cukup Tinggi
Sejak enam tahun terakhir import
barang modal dan konsumsi melonjak sehingga menekan neraca perdagangan
Indonesia. Hal ini ikut mendorong pelemahan rupiah terhadap dollar yang terjadi
sejak 2013. Meski terjadi penurunan import pada tahun 2014, hal ini tidak cukup
signifikan untuk menahan laju pelemahan rupiah.
7.
Bom Waktu Peninggalan Rezim Lama
Pelemahan nilai tukar rupiah dari
2013-2015. Selain dipicu oleh faktor eksternal, pelemahan ini juga di sebabkan
oleh defisit transaksi berjalan mulai terjadi 2012. Kendati sudah berupaya,
pemerintah SBY tidak mampu membalik defisit neraca transaksi berjalan menjadi
surplus.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Ketergantungan Indonesia terhadap negara asing masih cukup tinggi.
Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya ketergantungan ini adalah konsumsi
dalam negeri. Konsumsi dalam negeri yang tinggi menjadi penopang perekonomian
Indonesia saat perekonomian negara-negara maju mengalami keterpurukan akibat
krisis 2008. Konsumsi dalam negeri yang tinggi ini tidak diiringi dengan
produksi dalam negeri yang memadai sehingga Indonesia harus mengandalkan import
dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Saat perekonomian
Indonesia tumbuh pesat, konsumsi juga ikut meningkat dan import juga ikut
membengkak.
Perbaikan perekonomian Amerika Serikat dapat menjadi ancaman bagi stabilitas
perekonomian Indonesia. Perbaikan ekonomi Amerika Serikat berpotensi
menyebabkan arus modal keluar karena investor asing akan menarik dananya dari
Indonesia untuk diinvestasikan di sana. Perbaikan perekonomian Amerika diikuti
dengan pengurangan stimulus oleh The Fed
sehingga penawaran menurun.
Pemerintah harus melakukan perbaikan pada perekonomian Indonesia.
Pemerintah harus meningkat investasi agar Indonesia tidak perlu lagi melakukan
import untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam negeri. Pemerintah sebaiknya
mengutamakan investasi dalam negeri didanai oleh investor lokal agar mengurangi
ketergantungan terhadap penanaman modal asing. Pembatasan import juga perlu
dilakukan pemerintah agar produk-produk dalam negeri dapat bersaing dengan
produk asing. Diharapkan langkah-langkah pemerintah ini dapat mengurangi
ketergantungan Indonesia terhadap negara lain dan permintaa
MAKALAH KELOMPOK 10
“PASAR VALUTA ASING : INVESTASI”
MATA KULIAH
EKONOMI INTERNASIONAL
DISUSUN OLEH :
ZIKA PUSPITA SARI 2013310026
PUTRI RAMADHANI 2013310036
ADE PUTRI MAYANG SARI 2013230026
MARTHA MAGHFIROH 2014230121
NADYA AYU ARMINTA 2015230108
ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
INSTITUT ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tahun 1944, lahirnya sistem moneter internasional yang dikenal dengan
nilai tukar tetap (fixed exchangerate) hasil dari persetujuan Bretton wood system
sebagai awal perbaikan stabilitas ekonomi yang lebih baik pasca perang dunia ke-I.
Setiap Negara memberlakuakan kurs tetap mata uangnya terhadap dolar US. Hal
tersebut membawa pengaruh positif pada sektor ekonomi Negara-negara Eropa serta
Amerika Serikat. Selain itu Euro Dollar dan Asia Currency juga muncul utuk
mengimbangi peredaran dollar US yang semakin pesat.
Runtuhnya BWS menyebabkan berlakunya mata uang mengambang bebas (floating
exchangerate) yang
mekanismenya tergantung pada permintaan dan penawaran pasar. Teorinya, setiap
mata uang dapat digunakan untuk menentukan nilai tukar, akan tetapi kenyataan
yang selalu terjadi adalah dollar Amerika Serikat memiliki peranan utama
sebagai aset cadangan utama dari banyak Negara, sebagai alat mata uang dan
sebagai mata uang untuk intervensi. Peranan ini berlanjut, meskipun yen
(Jepang), Euro, dan Poundsterling mulai memiliki peranan tersebut.
Aktivitas pasar valuta asing menjadi penting seiringan dengan
berkembangnya perdagangan internasional dan semakin meningkatnya perpindahan
uang. Valuta asing bukan lagi hanya sekedar pertukaran mata uang, sehingga
dapat dikatakan valuta asing adalah suatu pasar dimana surat-surat berharga
jangka pendek diperdagangkan. Dalam perkembangannya uang berkembang menjadi
komoditas yang bias diperdagangkan.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1.
Apa itu valuta asing dan bagaimana mekanisme dari
pasar valuta asing?
1.2.2.
Bagaimana pengaruh menguatnya dollar terhadap
valuta asing?
1.2.3.
Bagaimana pengaruh menguatnya dollar terhadap
rupiah?
1.3. Tujuan
1.3.1.
Mengetahui penjelasan tentang valuta asing.
1.3.2.
Mengetahui pengaruh apresiasi dollar terhadap
valuta asing.
1.3.3.
Mengetahui pengaruh apresiasi dollar terhadap
rupiah.
BAB II
KONSEP
2.1. Pengertian Valuta Asing
Valuta Asing atau foreign
exchange atau pun foreign currency
adalah sebutan untuk mata uang asing yang digunakan sebagai transaksi
pembayaran ataupun yang lainnya dalam transaksi internasional serta keuangan
internasional yang biasanya mempunyai catatan kurs resmi pada Bank Sentral.
Mata uang yang di gunakan terbagi menjadi dua yaitu soft currency dan hard
currency. Soft Currency adalah mata
uang lemah yang jarang digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung
karena nilainya relatif tidak stabil dan sering mengalami depresi atau
penurunan nilai terhadap mata uang lainnya. Soft currency, ini pada umumnya
berasal dari negara-negara yang sedang berkembang seperti rupiah – Indonesia,
peso – Filipina, bath – Thailand, dan rupee – India. Sedangkan Hard Currency
adalah Mata uang yang sering digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan
hitung dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional. mata uang yang
nilainya relatif dan kadang-kadang mengalami apresiasi atau kenaikan nilai
terhadap mata uang lainnya. Hard currency pada umumnya berasal dari
negara-negara maju, seperti Dolar Amerika / USD, Poundsterling Inggris / GBP,
Euro Dolar / EUR, Swiss Franc / CHF, Japanese Yen / JPY, Australian Dolar /
AUD, Canadian Dolar / CAD.
Total Valas
yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta dari suatu negara juga dikatakan
sebagai cadangan devisa. Cadangan tersebut dapat diketahui dari posisi balance of payment
(BOP) atau neraca pembayaran internasionalnya. Makin banyak devisa yang
dimiliki pemerintah atau swasta disuatu negara maka akan semakin baik pula
kemampuan negara tersebut dalam melakukan transaksi ekonomi dan semakin kuat
pula nilai mata uang negara tersebut. Cadangan Devisa ini dikelompokkan menjadi
dua, yaitu:
2.1.1. Cadangan
Devisa Resmi (official
forex reserve)
Cadangan
devisa milik negara yang dikelola, dikuasai, dan di urus oleh Bank Sentral/Bank
Indonesia.
2.1.2. Cadangan
Devisa Nasional (Country
forex reserve)
Seluruh
Devisa dimiliki oleh perorangan, badan, atau, lembaga yang secara moneter
merupakan kekayaan nasional.
2.2. Jenis-jenis Valuta Asing
Pasar
valas dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:
2.2.1
Pasar Spot (Pasar Tunai)
Menurut Madura (2000:58-66) kurs spot adalah nilai
tukar berjalan suatu valuta. Kemudian yang dimaksud pasar spot adalah pasar
yang memfasilitasi transaksi-transaksi nilai tukar berjalan suatu valuta.
Dimana komoditi atau valas dijual secara tunai dengan penyerahan segera.
Disebut juga actual market atau physical market Menurut Kuncoro (1996:106-107)
transaksi spot terdiri dari transaksi valas yang biasanya selesai dalam
maksimal dua hari kerja. Dalam pasar spot, dibedakan atas tiga jenis transaksi:
a)
Cash, dimana pembayaran satu mata uang dan pengiriman mata uang lain
diselesaikan dalam hari yang sama
b)
Tom (kependekan dari tomorrow/besok), dimana pengiriman dilakukan pada hari
berikutnya
c)
Spot, dimana pengiriman diselesaikan dalam tempo 48 jam setelah perjanjian.
Menurut Hamdi (2000:20) contoh transaksi spot yaitu
pada tanggal 22 Desember 1996 seorang ayah membutuhkan US$ 10.000 untuk uang
saku anaknya yang akan sekolah diluar negeri. maka seorang ayah tersebut dapat
menghubungi bank-bank devisa atau money changer untuk dapat mengetahui dan
membuat kesepakatan selling price pada tanggaltersebut. Apabila telah tercapai
kesepakatan selling price pada tanggal 22 Desember 1996 adalah US$1 = Rp 5.500
maka perhitungannya: Jumlah Rupiah yang dibutuhkan = US$ yang dibutuhkan x
selling price= US$ 10.000 x Rp 5.5000
= Rp 55.000.000,-maka untuk mendapatkan US$ 10.000 diperlukan Rp 55.000.000,-
yang harus diserahkan paling lambat tanggal 24 Desember 2004 (2 x 24 jam atau t
+2).
2.2.2. Pasar Forward
Menurut Madura (2000:58-66) Kurs forward adalah nilai
tukar suatu valuta dengan valuta lain pada suatu waktu di masa depan yang
dikuotasikan oleh bank-bank. Kemudian yang dimaksud Pasar Forward adalah pasar
yang memfasilitasi perdagangan kontrak forward mata uang. Menurut Kuncoro
(1996:106-107) transaksi forward merupakan transaksi valas dimana pengiriman
mata uang dilakukan pada suatu tanggal tertentu di masa datang. Kurs dimana
transaksi forward akan diselesaikan telah ditentukan pada saat kedua belah
pihak menyetujui kontrak untuk membeli dan menjual. Waktu antara ditetapkannya
kontrak dan pertukaran mata uang yang sebenarnya terjadi dapat bervariasi dari
dua minggu hingga satu tahun. Jatuh tempo kontrak forward biasanya satu, dua,
tiga atau enam bulan. Transaksi forward biasanya terjadi bila eksportir,
importir, atau pelaku ekonomi lain yang terlibat dalam pasar valas harus
membayar atau menerima sejumlah mata uang asing pada suatu tanggal tertentu di
masa mendatang.
Menurut Madura (2000:63) contoh transaksi forward
yaitu apabila suatu perusahaan akan membutuhkan 1 juta Mark Jerman, 90 hari
dari sekarang untuk mengimpor barang dari Jerman. Asumsikan bahwa perusahaan
tersebut dapat langsung membeli Mark Jerman untuk pengiriman langsung (yaitu,
dari pasar spot) dengan kurs spot $0,50 per Mark. Berdasarkan kurs spot ini
maka perusahaan membutuhkan $500.000 ($0,50 per Mark x 1.000.000). namun
perusahaan belum memiliki dana saat ini juga untuk membeli Mark. Perusahaan
dapat menunggu 90 hari dan kemudian menukarkan US Dolar dengan Mark menurut
kurs yang berlaku saat itu. Tetapi perusahaan tidak mengetahui berapa kurs spot
90 hari dari sekarang. Jika naik menjadi $0,60 per Mark, perusahaan akan
membutuhkan $600.000 ($0,60 per Mark x 1.000.000 Mark). Dengan danya ini maka
perusahaan akan merugi sebesar $100.000. akan lebih baik perusahaan mengunci
kurs untuk 90 hari dari sekarang. Dimana kurs forward 90 hari sekarang adalah
$0,51 per mark, maka perusahaan dapat melakukan perjanjian kontrak forward
dengan menggunakan kurs forward 90 hari dari sekarang. Sehingga dana yang
dibutuhkan perusahaan sebesar
$510.000 ($0,51 per Mark x 1.000.000 Mark). Maka dengan mengunci kurs,
perusahaan tidak perlu khawatir dengan adanya perubahan kurs spot 90 hari ke
depan.
2.2.3 Pasar Currency
Futures
Menurut Madura (2000:67-68) pasar Currency Futures
merupakan pasar yang memfasilitasi perdagangan kontrak Currency Futures. Suatu
kontrak Currency Futures menetapkan suatu volume standar dari suatu valuta
tertentu yang akan dipertukarkan pada tanggal penyelesaian (settlement date)
tertentu di masa depan. Sebuah MNC (multi national corporation) yang ingin meng-hedge
hutangnya akan membeli kontrak Currency Futures untuk mengunci harga suatu
valuta di masa depan
Menurut Kuncoro (2000:123) contoh transaksi futures
yaitu sebuah korporasi AS, yang pada tanggal 2 Januari menyadari kebutuhan akan
450.000 mark untuk tanggal 11 Februari (40 hari kemudian). Jika korporasi
tersebut berupaya untuk mengunci harga pembelian mark di masa depan dengan
kontrak futures, tanggal penyelesaian kontrak adalah hari Rabu ketiga bulan
Maret. Selain itu, jumlah Mark yang dibutuhkan (450.000) lebih tinggi dari
jumlah standarnya (125.000). Hal yang terbaik yang bisa dilakukan korporasi
adalah membeli 3 kontrak futures-mark (dengan total 375.000 Mark) atau 4
kontrak futures-mark (500.000).asumsikan bahwa pada tanggal 11 Januari, harga futures-mark
untuk bulan Maret adalah $0,5900. dengan membeli kontrak futures ini pada
tanggal 2 Januari, perusahaan wajib membeli Mark seharga $0,5900 per Mark pada
hari Rabu ketiga bulan Maret. Di lain pihak, siapa pun yng menjual kontrak
futures ini pada tanggal 11 Januari wajib mengirimkan (menjual)Mark dengan
harga $0.5900 per Mark pada hari Rabu ketiga bulan Maret. Karena satu unit
kontrak futures-mark bernilai $125.000 Mark, maka perusahaan harus membeli 3
atau 4 unit kontrak futures-mark. Maka jumlah Dolar yang dibutuhkan adalah
$221.500 (3 unit kontrak futures-mark x $125.000 x $0,5900) atau 295.000 (4
unit kontrak futures-mark x $125.000 x $0,5900).
2.2.4. Pasar Currency Options
Menurut Madura (2000:67-68) menjelaskan pasar Currency
Options merupakan pasar yang memfasilitasi perdagangan kontrak currency
options. Kontrak currency options dapat diklasifikasikan sebagai call atau put.
Suatu currency call Options menyediakan hak untuk membeli suatu valuta tertentu
dengan harga tertentu (yang dinamakan dengan strike price atau exercise price)
dalam suatu periode waktu tertentu. currency call
options digunakan untuk meng-hedge hutang-hutang valas yang harus dibayarkan di
masa depan. currency put options memberikan hak untuk menjual suatu valuta
asing dengan harga tertentu dalam suatu periode waktu tertentu. Currency put
options digunakan untuk meng-hedge piutang-piutang valas yang akan diterima di
masa depan.
Menurut Madura (2000:131) contoh dari transaksi
currency call options yaitu ada kemungkinan perusahaan sebuah perusahaan akan
membutuhkan valuta asing di masa depan, tetapi perusahaan tidak begitu yakin.
Sebagai contoh, anggaplah sebuah perusahaan AS terlibat dalam tender sebuah
poyek di Jerman. Jika proyek tersebut jatuh kepada perusahaan tersebut maka
perusahaan akan membutuhkan kira-kira DM625.00 untuk membeli bahan baku dan
jasa di Jerman, namun perusahaan tidak tahu apakah tawaran akan diterima atau
tidak sampai tiga bulan ke depan. Asumsikan bahwa exercise price bagi Mark
adalah $0,50 dan premium call option-nya adalah $ 0,02 per unit. Perusahaan
akan membayar $1250 per opsi (62.500 x $0.02) atau $12.500 untuk 10 kontrak.
Dengan adanya opsi tersebut, jumlah maksimum pengeluaran US Dolar untuk membeli
Mark adalah $312.500 (62.500 x $0,5).
2.3. Fungsi Pasar Valuta Asing
Pasar valuta
asing mempunyai beberapa fungsi pokok dalam membantu kelancaran lalu lintas
pembayaran internasional, antara lain:
2.3.1.
Mempermudah penukaran
valuta asing serta pemindahan dana dari satu negara ke negara lain. Proses
penukaran atau pemindahan dana ini dapat dilakukan dengan sistem “clearing”
seperti halnya yang dilakukan oleh bank-bank serta para pedagang.
2.3.2.
Karena sering terdapat
transaksi internasional yang tidak perlu segera diselesaikan pembayaran dan
atau penyerahan barangnya, maka pasar valuta asing memberikan kemudahan untuk
dilaksanakannya perjanjian / kontrak jual beli dengan kredit.
2.3.3.
Memungkinkan dilakukannya “hedging”.
Seseorang pedagang melakukan hedging apabila dia pada saat yang sama
melakukan transaksi jual dan beli valuta asing di pasar yang berbeda, untuk
menghilangkan / mengurangi risiko kerugian akibat perubahan kurs.
2.4. Sistem Kurs Valuta Asing
Sekilas mengenai sistem kurs valuta asing yaitu,
Sejak tahun 1944 sampai dengan akhir tahun 60-an, sistem kurs valuta asing atau
bisa desebut sistem moneter internasional didasarkan pada Fixed
Exchange rate (sistem kurs tetap). Sistem ini
dekenal dengan sistem Bretton Woods, karena didasarkan pada perjanjian yang
disetujui oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dengan bank dunia (IBRD).
Sistem ini juga dikenal sebagai Standar Tukar Emas, karena banyak negara yang
memegang emas dan devisa, khususnya Dollar Amerika sebagai cadangannya. Namun
sejak tahun 60-an sistem ini tidak dipergunakan lagi dan beralih menggunakan
sistem kurs mengambang (floating exchange rate).
Sitem Kurs Valuta Asing memiliki sifat yang sangat
bergantung pada sifat pasar atau dapat dikatakan fluktuatif. Hal tersebut
disebabkan oleh, pertama, apabila transaksi jual beli valuta asing dapat
dilakukan secara bebas di pasar, maka kurs valuta asing akan berubah-ubah
sesuai dengan perubahan dari permintaan dan penawaran. Kedua, apabila
pemerintah menjalankan kebijaksanaan stabilisasi kurs, tetapi tidak dengan
mempengaruhi transaksi swasta, maka kurs ini hanya berubah-ubah di dalam batas
yang kecil. Meskipun batas-batas ini dapat diubah dari waktu ke waktu.
Pemerintah dapat juga menguasai sepenuhnya transaksi valuta asing. Dalam hal
ini kurs tidak lagi dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Sistem ini
disebut exchange control. Di dalam sistem moneter standar emas kurs valuta
asing relatif tetap atau hanya berubah-ubah dalam batas-batas yang ditentukan
oleh ongkos angkut emas.
2.4.1.
Sistem Kurs yang Berubah-ubah
Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada
faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Permintaan valuta asing
diperlukan untuk melakukan transaksi pembayaran ke luar negeri (impor).
Permintaan valuta asing diturunkan dari transaksi debit dalam neraca pembayaran
internasional. sedangkan penawaran valuta asing berasal dari eksportir yakni
berasal dari transaksi kredit neraca pembayaran internasional.
Suatu mata uang dapat dikatakan kuat apabila
transaksi autonomous kredit lebih besar dari transaksi autonomous debit
(surplus necara pembayaran), dan sebaliknya suatu mata uang dapat dikatakan
lemah apabila neraca pembayarannya mengalami defisit. Transaksi autonomous
debit dan kredit dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun
luar negeri, termasuk harga, pendapatan dan tingkat bunga. Segala sesuatu yang
mempengaruhi ketiga faktor ini, baik dari dalam maupun luar negeri, akan
mempengaruhi kepada permintaan dan penawaran, yang pada gilirannya akan
mempengaruhi kurs valuta asing.
Semakin tinggi tingkat dari pertumbuhan pendapatan,
semakin besar kemungkinan untuk impor, yang berarti makin besar pula permintaan
dari valuta asing. Kurs valuta asing akan cenderung naik (harga mata uang
sendiri turun). Demikian juga inflasi, akan menyebabkan impor naik dan ekspor
turun yang akan mengakibatkan kurs valuta asing naik Kenaikan tingkat bunga
dalam negeri cenderung menarik modal masuk dari luar negeri. Kurs valuta asing
akan cenderung turun.
Semua kegiatan ekonomi dan kebijaksanaan pemerintah
yaitu fiskal dan moneter, yang mempengaruhi pendapatan, harga serta tingkat
bunga secara tidak langsung akan mempengaruhi kurs. Kebijaksanaan pemerintah
akan menaikkan pendapatan dan harga akan menyebabkan impor naik, yang artinya
akan menekan permintaan valuta asing. Selanjuatnya kurs valuta asing akan naik.
Kemudian dari faktor non-ekonomi yang dapat mempengaruhi perubahan kurs,
seperti faktor politis dan psikologi. Misalnya, kepanikan yang terjadi di dalam
negeri akan menyebabkan larinya dana ke luar negeri, sehingga kurs valuta asing
akan naik.
2.4.2.
Sistem Kurs yang Stabil
Sistem kurs yang stabil dapat timbul secara Aktif dan Pasif:
a.
Aktif, yakni pemerintah menyediakan dana untuk
tujuan stabilisasi kurs (stabilization funds).
Kegiatan dari stabilisasi kurs dapat dijalankan
dengan cara sebagai berikut : apabila tendensi kurs valuta asing akan turun
maka pemerintah membeli valuta asing dipasar. Dengan tambahnya permintaan dari
pemerintah maka tendensi kurs turun dapat dicegah. Sebaliknya apabila tendensi
kurs naik, maka pemerintah menjual valuta asing di pasar sehingga penawaran valuta
asing bertambah dan kenaikan kurs dapat dicegah.
Usaha untuk mencegah kenaikan kurs valuta asing
bagi pemerintah lebih sukar, karena cadangan valuta asing yang dimiliki
terbatas. Keterbatasan ini mungkin menyebabkan pemerintah tidak bisa sepenuhnya
untuk mengembalikan kurs ke tingkat yang dikehendaki. Sedangkan usaha untuk
mencegah penurunan kurs lebih mudah dijalankan sebab pembelian valuta asing
oleh pemerintah dilakuakan dengan menggunakan cadangan mata uang sendiri.
Besarnya cadangan mata uang sendiri di bawah kekuasaan/pengawasan pemerintah,
bahkan kalau kekurangan pemerintah dapat mencetak uang.
b.
Pasif, yakni didalam suatu negara yang menggunakan
sistem standar emas.
Suatu negara dikatakan memakai standar emas apabila
nilai mata uangnya dijamin dengan nilai seberat emas tertentu, setiap orang
boleh membuat serta melebur uang emas, dan pemerintah sanggup membeli atau
menjual emas dalam jumlah yang tidak terbatas pada harga tertentu yaitu yang
sudah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam sistem standar emas kurs mata uang
suatu negara terhadap negara lain ditentukan dengan dasar emas
2.4.3.
Pengawasan Devisa
Dalam sistem ini pemerintah memonopoli seluruh
transaksi valuta asing. Tujuannya adalah untuk mencegah adanya aliran modal
keluar dan melindungi pengaruh depresi dari negara lain, terutama dalam hal
negara tersebut menghadapi keterbatasan cadangan valuta asing dibanding dengan
permintaannya. Menghadapi jumlah valuta asing yang relatif lebih sedikit
dibandingkan dengan permintaannya, pemerintah perlu mengadakan alokasi di dalam
pengggunaannya, yakni untuk tujuan-tujuan yang sesuai dengan program
pemerintah. Alokasi biasanya dilakukan dengan menggunakan lisensi impor.
Di dalam pengawasan devisa (exchange
control) pemerintah menetapkan kurs suatu mata uang itu, sebagai berikut:
1.
Hanya satu jenis saja, tidak tergantung pada tujuan
dari penggunaan devisa tersebut. Sistem ini disebut single
exchange rate system. Dalam hal ini exchange rate tidak mempunyai peranan atau fungsi yang
penting di dalam alokasi devisa untuk berbagai transaksi, permintaan, dan
negara.
2.
Lebih dari satu macam kurs, tergantung daripada
tujuan penggunaannya, misalnya:
$1 = Rp. 600,00; untuk impor barang-barang yang essensiil
$1 = Rp. 800,00; untuk impor barang-barang yang nonessensiil.
Sistem ini disebut multiple
exchange rate. Sebenarnya di dalam sistem ini terdapat banyak sekali cara penentuan
exchanger rate, diantaranya terdapat dua bentuk yaitu:
-
Dua atau lebih kurs/exchange rate yang bebas untuk
mengalokasikan devisa dengan beberapa pengawasan yang tidak ketat.
-
Dua atau lebih kurs resmi (official rate) tetap,
yang biasanya dilengkapi dengan sistem lisensi impor serta impor quota.
Di dalam mengadakan alokasi penggunaan devisa,
pemerintah dapat menggunakan beberapa cara, antara lain:
1. Individual
allocation : setiap pemohon devisa (importer) diadakan penelitian tentang
penggunaannya. Apabila pemohon tersebut disetujui lalu diberikan izin untuk
membeli sejumlah tertentu devisa.
2. Exchange
quota : untuk setiap kategori impor ditentukan jumlah devisanya berdasarkan
devisa yang akan diperoleh dari ekspor dalam waktu tertentu. Apabila devisa
sudah tersedia, lalu dijual dengan prinsip yang datang dulu dilayani sampai
jatah untuk kategori impor tersebut habis
3. Waiting
list : ini merupakan pelengkap cara sebelumnya. Setiap surat pemohon
pembelian devisa ditempatkan dalam daftar menunggu (waiting list) sampai devisa
tersedia.
Pada umumnya tujuan suatu negara menjalankan pengawasan devisa adalah:
1.
Mencegah terjadinya aliran modal ke luar negeri dan
menekan Neraca Pembayaran Internasional (NPI) yang disequilibrium. Apabila
suatu negara tidak menghendaki penyemimbangan NPI yang defisit dengan politik
deflasi ataupun devaluasi, maka harus diadakan penekanan terhadap defisit
tersebut dengan cara mengawasi langsung semua transaksi internasional.
2.
Melindungi industri di dalam negeri. Dengan
pembatasan impor maka pengawasan devisa mempunyai tujuan untuk melindungi
industri dalam negeri dari persaingan industri luar negeri
3.
Memperoleh pendapatan bagi pemerintah. Hal ini
dilakukan oleh pemerintah dengan cara menetapkan kurs (exchange rate) yang
berbeda antara pembelian dan penjualan. Kurs pembelian oleh pemrintah
ditetapkan lebih rendah daripada kurs penjualan. Perbedaan kurs inilah yang
merupakan pendapatan bagi pemerintah.
4.
Tie In Arragement: penggunaan devisa untuk impor
barang tertentu, tetapi dengan syarat importer harus juga membeli barang
pelengkap atau barang yang sama hasil produksi di dalam negeri dalam proporsi
tertentu.
2.5. Pelaku Valuta Asing
2.5.1.
Perusahaan
Adanya kegiatan ekspor dan impor dalam suatu
perusahaan menyebabkan perusahaan memerlukan mata uang negara lain ataupun mata
uang yang biasa digunakan dalam bertransaksi dengan negara lain. Dalam
perbedaan mata uang ini lah Valuta Asing dibutuhkan dalam bertransaksi.
2.5.2.
Individu
Para
individu juga bisa memanfaatkan keberadaan Valuta Asing dengan beberapa sebab.
Kegiatan spekulasi, yaitu dengan memanfaatkan fluktuasi pergerakan nilai valuta
asing untuk memperoleh keuntungan. Serta kebutuhan konsumsi pada saat berada di
luar negeri juga menjadi penyebab individu memerlukan mata uang asing.
2.5.3.
Bank Umum
Bank umum disini bersifat melayani masyarakat dalam
menukarkan dan juga yang memerlukan mata uang asing. Perbankan adalah pelaku pasar valas yang
terbesar dan paling aktif. Perbankan beroperasi dalam pasar valas lewat para
pedagangnya. Istilah teknis untuk menyebut para pedagang ini adalah exchange
dealer atau exchange trader.
2.5.4.
Pialang Pasar Valas atau Broker
Broker adalah perantara dalam
perusahaan untuk menukarkan mata uang asing. Pialang pasar valas adalah perantara
yang menghubungkan antara pihak yang membutuhkan dan menawarkan valas di pasar
valas. Untuk jasa perantara, pialang mengenakan biaya yang telah disepakati,
yang disebut brokerage. Salah satu modal dasar dasar pialang adalah
penguasaannya atas informasi pasar. Informasi sempurna karena dapat
mempertemukan berbagai pelaku pasar valas inilah yang membuat pasar valas
menjadipasar yang efisien.
2.5.5.
Pemerintah
Disini pemerintah melakukan
transaksi dengan mata uang luar negeri untuk membayar hutang piutang ataupun
menerima pemasukan dan pembayaran dari ataupun ke luar negeri.
2.5.6.
Bank Sentral
Disini Bank sentral melakukan jual beli valuta asing dalam rangka
menstabilkan nilai tukar mata uangnya yang biasa disebut dengan kegiatan
intervensi. Tujuan utama Bank Sentral adalah
mempengaruhi nilai mata uangnya dan nilai mata uang penting lain agar bergerak
sesuai dengan nilai yang menurut Bank Sentral tersebut sesuai dengankepentingan
ekonomi negaranya.
2.5.7. Spekulan
dan Arbitraser
Arbitraser
adalah orang yang mengeksploitasi perbedaan kurs antar valas. Peran serta
Spekulan dan arbitraser dalam pasar valas semata-mata didorong oleh motif
mengejar keuntungan. Mereka justru menuai laba dari fluktuasi drastis yang
terjadi di pasar valas. Dengan kata lain, mereka tidak mempunyai transaksi
bisnis atau komersial yang perlu dilindungi di pasar valas.
2.6. Ciri-ciri Pasar Valuta
Asing
Pasar valuta asing tidak terbatas pada suatu
negara tertentu. Pasar untuk poundsterling misalnya, meliputi
transaksi-transaksi dalam pound sterling baik di New York, Montreal, Zurich dan
lain-lain, serta transaksi-transaksi dalam valuta asing di London. Orang
biasanya selalu tergoda untuk memandang pasar valuta asing itu sebagai pasar
dimana seakan-akan ada ikatan geografisnya. Pandangan tersebut adalah salah.
Pasar valuta asing adalah pasar untuk suatu mata uang. Bila persedian poundsterling di New York
melebihi permintaannya di New York, tidak perlu terjadi perubahan kurs,
kelebihannya dapat dipergunakan untuk membeli dollar di New York.
2.7 MEKANISME PASAR VALUTA ASING
Kuncoro
(1996:107) mengatakan seandainya ada mata uang tunggal internasional,
barangkali pasar valas tidak diperlukan. Kenyataan
menunjukkan, dalam setiap transaksi internasional selalu digunakan valas.
Dengan kata lain ada kebutuhan untuk mengkonversi mata uang yang satu menjadi
mata uang lain. Inilah yang menimbulkan adanya permintaan akan transaksi valas.
Pasar valas dunia menawarkan mekanisme yang dapat menyelesaikan transaksi
kompleks dan beragam secara efisien. Perantara utama dalam pasar valas adalah
bank-bank utama yang beroperasi diseluruh dunia terutama yang berdagang valas.
Bank-bank ini dihubungkan dengan jaringan telekomunikasi yang sangat maju dan
canggih, dimana dapat menghubungkan bank-bank tersebut dengan klien utamanya
dan bank-bank lain diseluruh dunia. Tidak seperti di bursa saham yang memiliki
lantai perdagangan (trading
floor),
pialang-pialang berbagai bank dalam pasar valas tidak pernah bertemu dan
berhadapan secara langsung. Hanya telepon, modem, mesin faks, terminal computer, atau telex
yang menghubungkan permintaan dan penawaran valas.
Ada dua
tingkatan dalam pasar valas. Pertama, pasar konsumen/eceran (consumer/retail market), dimana
individu atau institusi membeli dan menjual valas kepada bank. Sebagai
contoh, bila IBM bermaksud merepatriasi keuntungan dari cabangnya di Jerman ke
AS, maka IBM dapat mendatangi sebuah bank di Frankfurt dengan tawaran menjual
DM yang dimilikinya untuk ditukarkan US$. Kedua, apabila bank tersebut tidak
memiliki jumlah US$ yang diinginkan, maka bank tadi akan mendatangi bank lain
untuk memperoleh Dolar sebagai ganti DM atau valas lain. Penjualan dan
pembelian semacam ini disebut pasar antar bank.
Dalam pasar
valas, tidak ada keseragaman. Dengan adanya transaksi diluar bursa perdagangan
(over the counter) sebagai
pasar tradisional dari perdagangan valuta asing, banyak sekali pasar valuta
asing yang saling berhubungan satu sama lainnya dimana mata uang yang berbeda
diperdagangkan, sehingga secara tidak langsung artinya bahwa “tidak ada kurs
tunggal mata uang dollar melainkan kurs yang berbeda-beda tergantung pada bank
mana atau pelaku pasar mana yang bertransaksi”. Namun dalam praktiknya,
perbedaan tersebut seringkali sangat tipis.
2.8 Kelebihan dan Kekurangan Valas
2.8.1.
Kelebihan Valas:
1. Transaksi
24-Jam
Tidak seperti
transaksi di pasar modal, pasar valas berjalan 24 jam sehari selama 5 hari
dalam seminggu.
2. Rendahnya
Biaya Transaksi
Biaya
transaksi di pasar valas secara online tidak ada, namun hanya dikenakan biaya
yang jumlahnya cukup beragam salah satu contohnya adalah biaya pada saat
penarikan dana dari akun forex.
3. Keuntungan
dari Kenaikan dan Penurunan Harga
Para trader
dapat menarik keuntungan dari kenaikan harga yaitu selisih antara harga beli
(ask/offer) dengan harga jual/harga penutupan (bid) pada pesanan beli (buying
order). Sedangkan pada pesanan jual (selling order), keuntungan didapat dari
selisih antara harga jual (bid) dengan harga beli/penutupan (ask/offer).
4. Marjin
Perdagangan
Perdagangan
dengan marjin dapat membuat daya beli investor melebihi jumlah modal yang
dimiliki.
5. Two
way opportunities
Anda dapat
menghasilkan keuntungan 2 arah, ketika market naik atau pun ketika market
turun. Hal ini tidak berlaku bagi investasi jenis lain (1 way opportunity),
sebagai contoh: saham.
6. Fungsi
Leverage (daya ungkit/faktor pengali)
Dengan modal
relatif kecil anda dapat menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar. Contoh:
tanpa leverage anda hanya akan mendapatkan $0.01/point dengan modal $100. Tapi
dengan leverage 1:100 maka anda dapat menghasilkan $1/point dengan modal yang
sama ($100). Resiko valas (forex).
2.8.2
Kelemahan
Valas
1. Risiko
Kurs Pertukaran (Exchange Rate Risk)
Risiko ini
timbul sebagai akibat dari naik-turunnya nilai tukar (kurs) valas.
2. Risiko
Negara Asal
Risiko ini
timbul dari akibat campur tangan pemerintah yang mata uangnya di perdagangkan
di pasar valas contohnya seperti intervensi bank sentral di negara tersebut
dengan menaikkan tingkat suku bunga, melepas obligasi pemerintah, pembelian
valuta asing secara besar-besaran oleh pemerintah dan sebagainya.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1. Studi
kasus : Nilai tukar rupiah tembus Rp14 ribu, pemerintah didorong siapkan
rencana darurat
Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang mencapai Rp14.050 per US$1
memang tak lepas dari fenomena ekonomi global. Namun pemerintah juga harus
melihat kinerja tim ekonomi dalam negeri. Devaluasi mengakibatkan terjadinya
perubahan struktural (tectonic shift) dalam pasar
finansial global. Rupiah pun terpengaruh oleh perubahan ini. Dari sektor
domestik, pelemahan ini juga disebabkan oleh isu-isu ekonomi yang relatif masih
sama, yaitu bagaimana pemerintah mempercepat belanja agar infrastruktur mulai
dibangun dan meyakinkan investor untuk melakukan investasi langsung. Namun
upaya melakukan investasi langsung ini terhambat oleh sentimen pasar yang masih
negatif terhadap Indonesia.
David selaku ekonom bank central asia, melihat potensi perekonomian
Indonesia sebenarnya masih bagus, namun hal itu bergantung pada kemampuan
pemerintah menjaga stabilitas harga pangan dan menghilangkan isu-isu yang
mengganggu stabilitas tersebut. Perombakan kabinet adalah upaya untuk melakukan
perubahan struktural tersebut meski butuh waktu untuk melihat hasilnya.
Pemerintah dan otoritas juga harus menyiapkan rencana darurat untuk menghadapi
kemungkinan terburuk, terutama dari sisi stabilitas harga pangan, mempercepat
belanja infrastruktur, dan meyakinkan investor. Pemerintah juga harus
menentukan langkah yang hendak diambil agar nilai tukar ke depan lebih stabil.
Sementara itu, pengamat mata uang Farial Anwar mengatakan bahwa meski
ada faktor eksternal yang bermain seperti spekulasi kenaikan suku bunga di AS, namun
kurs rupiah yang sudah mencapai Rp14.050 harus dilihat sebagai kondisi darurat.
Ia berharap pemerintah bekerja bersama dengan Bank Indonesia untuk melakukan
sinkronisasi antara sektor fiskal dengan moneter terutama dalam mengeluarkan
kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (BBCIndonesia.com).
3.2. Analisis
3.2.1.
Pengaruh Penguatan Dollar terhadap valuta asing
Nilai tukar sebuah mata uang,
pada dasarnya mencerminkan harga dari mata uang tersebut. Pada prinsipnya nilai
mata uang dipengaruhi oleh kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) antara
dua mata uang masing-masing Negara tersebut.
Nilai tukar yang ditentukan oleh
pasar akan berubah-ubah nilainya, tergantung dengan kebutuhan dan ketersediaan
mata uang tersebut. Jadi, jika permintaan mata uang meningkat maka mata uang
tersebut akan mengalami apresiasi, sebaliknya jika penawaran mata uang
meningkat maka matauang tersebut akan mengalami depresiasi. Valuta asing akan
menyesuaikan dengan system kurs yang dipakai suatu negara.
Misalnya suatu Negara menggunakan
system kurs mengambang bebas yang mekanismenya tergantung dengan permintaan dan
penawaran. Maka apabila suatu negara mengalami apresiasi dan sebaliknya mitra
dagangnya malah mengalami deflasi, pemerintah sebaiknya tidak menginterversi.
Jadi valuta asing menyesuaikan patokan harganya sendiri mengikuti pasar.
3.2.2.
Penyebab Rupiah melemah terhadap dollar AS pada
Agustus 2015
Setelah melalui
sejarah panjang akhirnya pada tahun 1949 rupiah resmi menjadi mata uang kebangsaan
Indonesia.Kebijakan kurs mengambang bebas di Indonesia dari waktu ke waktu
malah melemahkan rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian melemah,
bahkan semakin mengkhawatirkan ketika posisinya melampaui level lebih dari 13
ribu per dolar sehingga menjadi beban bagi pemerintah Joko Widodo.
Melemahnya rupiah, akan berdampak
pada valuta asing untuk melakukan ekspor-impor. Permintaan dan penawaran
menjadi rendah dikarenaka harga jual-beli tidak stabil. Dampaknya, Indonesia
yang merupakan negara berkembang, mudah terdepresiasi nilai mata uangnya karena
pengaruh penguatan mata uang negara maju, khususnya Amerika Serikat. Nilai Mata
uang Indonesia memiliki karakteristik tersendiri, yaitu soft currency yang artinya sensitif sekali
terhadap kondisi perekonomian internasional.
Bila menilik faktor penyebab jatuhnya rupiah, sulit menampik adanya pengaruh
perbaikan ekonomi Amerika Serikat yang bangkit dari lembah krisis 2008. Pada
Mei 2013 ketika Amerika mulai pulih, The Fed atau bank sentral Amerika
mengumumkan rencana memotong dana stimulus sehingga mendorong pelemahan mata
uang global, tak terkecuali rupiah. Pengaruh untuk indonesia dari perbaikan
ekonomi Amerika Serikat , yaitu:
1.
Dollar menguat
Pemulihan ekonomi Amerika Serikat pasca krisis 2008
membuat The Fed atau bank sentral Amerika menghembuskan rencana tappening off
atau pemangkasan quantitatife easing, yang biasa disebut stimulus ekonomi.
Rencana yang kemukakan Gubernur The Fed, Ben Bernake sejak mei 2013 itu menjadi
awal melemahnya mata uang global terhadap dolar AS karena supply dolar akan
berkurang.
Kebijakan yang diambil Amerika Serikat adalah
sebagai adalah sebagai berikut:
|
Quantitative easing
·
The Fed mencetak dolar lebih banyak.
·
The Fed mengguyurkan stimulus dengan membeli
obligasi.
·
Dolar mengalir ke pasar emerging market termasuk
indonesia.
·
Mata uang dunia menguat terhadap dolar.
|
Tapering off
·
Memotong stimulus.
·
Menaikan suku bunga.
·
The Fed menjual obligasi untuk menarik dana.
·
Dolar di penjuruh dunia kembali ke Amerika.
|
Penguatan dollar
·
Dolar langka tapi di buru untuk keperluan
transaksi.Mata uang global melemah terhadap dolar.
|
2.
Terus Tertekan oleh Sinyal Buruk The Fed
Nilai tukar
rupiah dan index harga saham gabungan (IHSG), mulai berfluktuasi tajam ketika
the fed mewancanakan pengurangan pembelian obligasi pada mei 2013. Muncul
kekhawatiran pemulihan ekonomi di amerika serikat akan berdampak pada kembalinya
modal dan mempengaruhi pasar keuangan dunia. Rupiah terus bergerak hingga
menembus level Rp.13.000 pada minggu ke 3 maret, 2015.
3.
Mata Uang Melemah Melanda Seluruh Dunia
Pemulihan ekonomi amerika serikat
yang diikuti dengan pemotongan stimulus oleh The Fed berdampak pada menguatnya
dollar terhadap hampir seluruh mata uang dunia. Bila dibandingkan dengan mata
uang lainnya, kondisi rupiah yang anjlok hingga 9,6 % tahun lalu bukanlah yang
terburuk, meski juga bukan yang menggembirakan.
4.
Booming Harga, Komoditas Telah Berlalu.
Pelemahan
mata uang dunia terhadap dolar Amerika membuat permntaan barang komoditas
menurun. Akibatnya, harga komoditas yang menjadi andalan ekspor indonesia
anjlok, dan berdampak pada neraca perdagangan yang pada akhir nya memperburuk
pelemahan rupiah.
5.
Kinerja Ekspor, Kian Merosot.
Pelemahan
rupiah ikut didorong oleh menurunnya kinerja ekspor indonesia. Ketika rupiah
melemah, seharusnya ekspor mengalami kenaikan. Namun karena produk ekspor
indonesia di dominasi barang komoditas yang harga dan permintaannya sedang
anjlok, maka kontribusi terhadap neraca perdagangan tidak signifikan, sehingga
mendorong pelemahan rupiah.
6.
Import Barang Cukup Tinggi
Sejak enam tahun terakhir import
barang modal dan konsumsi melonjak sehingga menekan neraca perdagangan
Indonesia. Hal ini ikut mendorong pelemahan rupiah terhadap dollar yang terjadi
sejak 2013. Meski terjadi penurunan import pada tahun 2014, hal ini tidak cukup
signifikan untuk menahan laju pelemahan rupiah.
7.
Bom Waktu Peninggalan Rezim Lama
Pelemahan nilai tukar rupiah dari
2013-2015. Selain dipicu oleh faktor eksternal, pelemahan ini juga di sebabkan
oleh defisit transaksi berjalan mulai terjadi 2012. Kendati sudah berupaya,
pemerintah SBY tidak mampu membalik defisit neraca transaksi berjalan menjadi
surplus.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Ketergantungan Indonesia terhadap negara asing masih cukup tinggi.
Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya ketergantungan ini adalah konsumsi
dalam negeri. Konsumsi dalam negeri yang tinggi menjadi penopang perekonomian
Indonesia saat perekonomian negara-negara maju mengalami keterpurukan akibat
krisis 2008. Konsumsi dalam negeri yang tinggi ini tidak diiringi dengan
produksi dalam negeri yang memadai sehingga Indonesia harus mengandalkan import
dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Saat perekonomian
Indonesia tumbuh pesat, konsumsi juga ikut meningkat dan import juga ikut
membengkak.
Perbaikan perekonomian Amerika Serikat dapat menjadi ancaman bagi stabilitas
perekonomian Indonesia. Perbaikan ekonomi Amerika Serikat berpotensi
menyebabkan arus modal keluar karena investor asing akan menarik dananya dari
Indonesia untuk diinvestasikan di sana. Perbaikan perekonomian Amerika diikuti
dengan pengurangan stimulus oleh The Fed
sehingga penawaran menurun.
Pemerintah harus melakukan perbaikan pada perekonomian Indonesia.
Pemerintah harus meningkat investasi agar Indonesia tidak perlu lagi melakukan
import untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam negeri. Pemerintah sebaiknya
mengutamakan investasi dalam negeri didanai oleh investor lokal agar mengurangi
ketergantungan terhadap penanaman modal asing. Pembatasan import juga perlu
dilakukan pemerintah agar produk-produk dalam negeri dapat bersaing dengan
produk asing. Diharapkan langkah-langkah pemerintah ini dapat mengurangi
ketergantungan Indonesia terhadap negara lain dan permintaan matauang negara
asing bisa menurun sehingga stabilitas nilai tukar dan perekonomian Indonesia
bisa terjaga.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ball, Donald A. 2014. Bisnis
nternasional. Jakarta:Salemba Empat.
Boediono. 1997. Ekonomi
Internasional, Edisi I. Yogyakarta:BPFE
Hady, Hamdy. 2001. Teori dan
Kebijakan Keuangan Internasional. Jakarta:Ghalia Indonesia.
fff. 2011. Ekonomi
Internasional, Edisi 3. Yogyakarta:BPFE.
Kuncoro, Mudrajad. 1996.
Manajemen Keuangan internasional. Edisi pertama. Yogyakarta: BPFE UGM
INTERNET
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ball, Donald A. 2014. Bisnis
nternasional. Jakarta:Salemba Empat.
Boediono. 1997. Ekonomi
Internasional, Edisi I. Yogyakarta:BPFE
Hady, Hamdy. 2001. Teori dan
Kebijakan Keuangan Internasional. Jakarta:Ghalia Indonesia.
Nopirin. 2011. Ekonomi
Internasional, Edisi 3. Yogyakarta:BPFE.
Kuncoro, Mudrajad. 1996.
Manajemen Keuangan internasional. Edisi pertama. Yogyakarta: BPFE UGM
INTERNET