Sabtu, 12 Maret 2016

Ade Putri Mayangsari 2013230026

Ade Putri Mayangsari
2013230026
TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Teori perdagangan internasional bertujuan untuk menjelaskan bagaimana arah dan komposisi perdagangan internasional yang dilakukan negara satu dengan negara lain. Teori Perdagangan internasional juga dibuat untuk menunjukan keuntungan yang didapat dari transaksi jual beli internasional. Teori Perdagangan Internasional dibagi menjadi dua yaitu Teori Klasik, dan Teori Modern. Disini penulis akan membahas mengenai teori modern, lebih spesifiknya lagi yaitu Faktor Proporsi atau yang biasa dikenal dengan Teori Hecksher Ohlin.
Faktor Proporsi (Hecksher & Ohlin)
Teori Modern yang dikemukakan oleh Eli Hecksher dan Bertil Ohlin menjelaskan bahwa perbedaan dalam opportunity cost suatu negara dengan negara lain karena adanya perbedaan dalam jumlah faktor produksi yang dimilikinya. Suatu negara yang memiliki tenaga kerja lebih banyak dari negara lain sedangkan negara lain memiliki capital lebih banyak daripada negara yang memiliki tenaga kerja lebih tersebut sehingga terjadinya pertukaran (Nopirin, 2010). Negara-negara yang memiliki faktor produksi yang relative lebih banyak atau murah akan melakukan spesialisasi dan mengekspor barang yang dihasilkan ke negara lain, dan sebaliknya negara yang faktor produksinya relative lebih mahal akan mengekspor barang tertentu. Dalam teori ini negara juga memilih spesialisasinya berdasarkan faktor produksi yang dikeluarkan. Di analisisnya, hecksher dan ohlin menggunakan dua kurva yaitu Isocost (kurva yang menggambarkan biaya produksi yang sama) dan Isoquant (kurva yang menggambarkan kualitas produk yang sama. Jadi dengan biaya tertentu akan diperoleh produk yang maksimal atau dengan biaya minimal akan diperoleh produk tertentu. Sebagai contoh, Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak tenaga kerja harus memproduksi barang yang membutuhkan banyak tenaga kerja, sedangkan jepang yang memiliki banyak modal harus memproduksi barang yang membutuhkan banyak modal.  Ketika dua negara ini berdagang mereka akan memperoleh barang-barang yang memerlukan sejumlah faktor produksi yang relative langka dengan harga yang lebih rendah dan keduanya pun akan memperoleh keuntungan dari perdagangan produk tersebut.
Selain mengajarkan mengenai keefektifan dalam produksi barang suatu negara, teori H-O ini juga memiliki beberapa kelemahan, pertukaran barang yang dijelaskan disini karena adanya perbedaan antara jumlah dan proporsi faktor produksi, jika jumlah atau proporsi faktor produksi relative sama maka tidak akan terjadi pedagangan internasional.
Dari penjelasan yang dibahas, dapat disimpulkan bahwa proposisi faktor-faktor produksi yang dimiliki suatu negara berbeda-beda, sehingga menimbulkan perbedaan harga di setiap negara. Suatu negara cenderung untuk memproduksi barang yang menggunakan faktor produksi yang dimiliki negara itu dalam jumlah besar.

Daftar Pustaka:
Nopirin, Ph.D. 2011, Ekonomi Internasional. BPFE Yogyakarta.

e-journal.uajy.ac.id diakses pada 9 maret 2016 pukul 20.30

0 komentar:

Posting Komentar