
KampusTercinta – IISIP Jakarta
Institut IlmuSosial dan IlmuPolitik Jakarta
PENYEIMBANGAN NERACA PERDAGANGAN INTERNASIONAL
MAKALAH
EKONOMI INTERNASIONAL
KELOMPOK
5
INGE
RISKY HARDIANTI 2013230030
SUCI
RAHMA NIZAR 2014230100
GUSTIN
RATNA SARI2014230103
CHOLIS
MAISAROH 2012310018
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
INSTITUT
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JAKARTA
MEI
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Ekonomi dan
perdagangan merupakan isu yang paling penting saat ini, faktor penyebabnya
menurut sudut pandang ekonomi tidak hanya melibatkan prospek-prospek
pertumbuhan ekonomi yang berarti pula kemakmuran masyarakat, namun sekaligus
melibatkan kepentingan negara dan aktor lainnya. Kepentingan-kepentingan yang
muncul ini kemudian saling bersaing antara masyarakat dengan perusahaan dan
antara negara-negara maju ataupun negara berkembang. Kita dapat melihat bahwa battle of ground perdagangan akan
melibatkan tiga sisi kekuatan dan kepentingan yang dalam hal saling bersaing,
yakni antara masyarakat dengan perusahaan, negara maju dengan negara
berkembang, dan antara negara maju itu sendiri.
Melihat perkembangan ekonomi internasional sekarang ini,
serta semakinketatnyapersaingan didalam dunia ekonomi di era globalisasi ini,
dimanatransaksi-transaksi yang muncul dalam ekonomi internasional
menyebabkanuangmengalirdarisuatunegarakenegaralain(arusdanainternasional)maka
dari itusuatunegara harus bersaing dengan penduduk negara lainuntukmenciptakan
aliran dana masuk ke negaranya lebih tinggi jikadibandingkandengan aliran dana
keluar darinegaranya.
Neraca perdagangan ialah sebuah istilah untuk
menggambarkan perbedaan selisih antara ekspor dan impor. Neraca perdagangan
yang positif berarti negara tersebut mengalami ekspor yang nilai moneternya
melebihi impor yg bisa disebut surplus perdagangan. Perdagangan internasional
melibatkan berbagai transaksi ekonomi antara satu negara dengan negara lain.
Transaksi ekonomi tersebut kemudian dicatat dalam bentuk neraca. Neraca
perdagangan internasional merupakan salah satu komponen penting dalam neraca
pembayaran internasional.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika
Serikat pada bulan Februari 2015?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika
Serikat pada bulan Februari 2015?
1.4 Kerangka Teori
Teori Comparative advantage menurut J.S. Mill menyatakan
bahwa suatu negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang
memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang memiliki
comparative disadvantage, yaitu suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih
murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang
besar. Teori Comparative Advantage ini menyatakan pula bahwa nilai suatu barang
ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang
tersebut. Semakin banyaknya tenaga yang dicurahkan maka makin mahal barang
tersebut(Nophirin, 1991: 11).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Neraca perdagangan
Neraca Perdagangan Internasional adalah suatu catatan
yang memuat atau mencatat semua transaksi ekspor dan transaksi impor barang
suatu negara. Neraca perdagangan dibuat agar suatu negara dapat mengetahui
perkembangan perdagangan internasional yang dilakukan. Keadaan neraca suatu
perdagangan ada tiga kemungkinan yaitu surplus, defisit, atau seimbang (www.ilmuekonomi.net). Neraca perdagangan dikatakan defisit bila
nilai ekspor lebih kecil daripada nilai impornya dan dikatakan surplus bila
ekspor barang lebih besar daripada impornya. Dan dikatakan neraca perdagangan
yang seimbang jika nilai ekspor suatu negara sama dengan nilai impor yang
dilakukan negara tersebut.
2.2 Jenis – Jenis Neraca Perdagangan
Internasional
Secara
umum, neraca pembayaran terbagi menjadi tiga jenis, antara lain :
a.
Neraca Perdagangan Defisit
Neraca perdagangandefisit adalah neraca perdagangan yang
menunjukkan jumlah transaksi pembayaran luar negeri (disebut transaksi debet)
lebih besar dibandingkan transaksi penerimaan dari luar negeri (disebut
transaksi kredit).
b.
Neraca Perdagangan Surplus
Neraca perdagangan surplus adalah neraca pembayaran yang
menunjukkan transaksi debet lebih kecil dibandingkan transaksi kredit.
c.
Neraca Pembayaran dan Perdagangan Seimbang
Neraca perdagangan Seimbang adalah neraca pembayaran yang
menunjukan transaksi debet sama dengan transaksi kredit(www.ilmuekonomi.net).
2.3 Unsur-Unsur Neraca Perdagangan
Internasional
1). Transaksi Barang dan Jasa
Transaksi ini meliputi transaksi ekspor maupun impor
barang serta jasa, disebut pula transaksi sedang berjalan (current account).
Dalam hal ekspor barang meliputi barang-barang yang dapat dilihat secara fisik
contohnya ekspor kayu, minyak dan gas, cengkeh dan sebagainya. Ekspor jasa
meliputi jasa-jasa angkutan, turis, asuransi dan sebagainya, dalam transaksi
jasa ini termasuk pula pendapatan dari investasi modal di luar negeri. Ekspor
barang dan jasa merupakan transaksi kredit sebab transaksi ini menimbulkan hak
untuk menerima pembayaran (terjadinya aliran dana masuk) (Nophirin, 1991: 166).
Transaksi impor barang meliputi misalnya barang-barang
konsumsi, bahan mentah untuk industri dan kapital, sedang impor jasa meliputi
pembelian jasa-jasa dari penduduk negara lain. Termasuk dalam impor jasa adalah
pendapatan bunga, dividen tau keuntungan untuk modal yang ditanam di dalam
negeri oleh penduduk negara lain. Impor barang-barang dan jasa merupakan
transaksi debet sebab transaksi ini menimbulkan kewajiban untuk melakukan
pembayaran kepada penduduk negara lain (terjadinya aliran dana ke luar negeri)
(Nophirin, 1991: 167).
2). Transaksi Modal
Transaksi modal terdiri atas :
a.
Transaksi modal jangka pendek, yang meliputi :
·
Kredit untuk perdagangan dari negara lain (transaksi
kredit) atau kredit perdagangan yang diberikan kepada penduduk negara lain
(transaksi debet).
·
Deposito bank oleh penduduk domestik di luar negeri
(transaksi debet) atau deposito bank di dalam negeri milik penduduk negara lain
(transaksi kredit).
·
Pembelian surat berharga luar negeri jangka pendek
(transaksi debet) atau penjualan surat berharga dalam negeri jangka pendek
kepada penduduk negara lain (transaksi kredit).
b.
Transaksi modal jangka panjang, yang meliputi :
·
Investasi langsung di luar negeri (transaksi debet) atau
investasi asing di dalam negeri (transaksi kredit).
·
Pembelian surat-surat berharga jangka panjang milik
penduduk negara lain (transaksi debet) atau pembelian surat-surat berharga
jangka panjang dalam negeri oleh penduduk negara lain (transaksi kredit).
·
Pinjaman jangka panjang yang diberikan kepada penduduk
negara lain (transaksi debet) atau pinjaman jangka panjang yang diterima dari
penduduk negara lain (transaksi kredit) (Nophirin, 1991: 168).
Jadi dapat kita lihat bahwa setiap transaksi modal yang menyebabkan
kenaikan (penurunan) kekayaan suatu negara di luar negeri merupakan aliran
modal keluar (masuk) atau merupakan transaksi debet (kredit). Setiap transaksi
modal yang menyebabkan kenaikan (penurunan) kekayaan asing di dalam negeri
merupakan aliran modal masuk (keluar) atau merupakan transaksi debet (kredit).
3). Transaksi Satu Arah (Unilateral Transfer)
Transaksi satu arah adalah transaksi yang tidak
menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran, misalnya hadiah (gifts) dan
bantuan (aid) (Nophirin, 1991: 169). Jika suatu negara memberikan sebuah hadiah
ataupun bantuan kepada negara lain, maka hal tersebut adalah transaksi debet.
Kemudian jika suatu negara menerima sebuah hadiah atau bantuan dari negara lain
merupakan transaksi kredit.
4). Selisih Perhitungan (error and ommission)
Rekening ini ialah rekening penyeimbang apabila nilai-nilai transaksi
kredit tidak persis sama dengan nilai-nilai transaksi debet (Nophirin, 1991:
169). Adanya rekening selisih perhitungan ini dapat kita ketahui bahwa jumlah
total nilai sebelah kredit dan debet dari suatu neraca pembayaran internasional
akan selalu sama (balance).
5). Lalu Lintas Moneter
Transaksi lalu lintas moneter sering disebut “accomodating” dikarenakan transaksi ini
timbul sebagai akibat dari adanya transaksi lain. Transaksi lain tersebut
sering disebut “autonomous” sebab
transaksi lain tersebut timbul dengan sendirinya, tanpa dipengaruhi oleh
transaksi lain. Transaksi yang termasuk dalam transaksi autonomous adalah
transaksi-transaksi yang sedang berjalan, transaksi kapital serta transaksi
satu arah. Perbedaan antara transaksi autonomous debet dengan kredit
diseimbangkan dengan transaksi lalu lintas moneter. Transaksi ini timbul
diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara transaksi autonomous debet dan kredit
(Nophirin, 1991: 169).
2.4 Manfaat Neraca Perdagangan antara lain
:
a)
Sebagai tolak ukur arah kebijakan yang diambil oleh
pemerintah dan pihak terkait. Neraca Perdagangan sebagai salah satu alat untuk
menentukan arah kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah dan pihak terkait.
Dalam hal ini untuk pelaku kegiatan ekonomi internasional.
b)
Untuk mengetahui besaran jumlah pengeluaran dan
pendapatan suatu negara. Neraca Perdagangan berfungsi sebagai pemberi informasi
jumlah atau besaran angka ekspor maupun impor. Jika nilai ekspor lebih tinggi
maka dapat dikatakan surplus atau kelebihan pendapatan. Sebaliknya apabila
nilai ekspor lebih kecil dari impor maka dikatakan sebagai defisit atau keadaan
yang tidak menguntungkan.
c)
Menjadi informasi kegiatan ekonomi internasional, dalam
hal ini menjadi sumber informasi perdagangan internsional. Ketika suatu negara
mengalami peningkatan ekspor maupun impor, maka negara lain akan mengetahui dan
dapat melakukan pertimbangan untuk menjalin kerjasama.
2.5. Balance dalam suatu neraca
perdagangan, terdapat tiga pengertian
1. Basic balance
Basic balance terdiri dari balance dalam transaksi yang
sedang berjalan (current account balance) kemudian ditambah dengan transaksi
modal jangka panjang. Basic balance akan berubah – ubah jika terjadi perubahan
prinsipil dalam perekonomian seperti perubahan harga, kurs valuta asing dan
pertumbuhan ekonomi. Basic balance memberikan informasi tentang akibat
perubahan perkonomian terhadap neraca pembayaran, yitu berakibat pada pada
aliran modal jangka pendek (Nophirin, 1991:170).
2. Balance transaksi “autonomous”
Balance ini terdiri dari basic balance ditambah dengan
aliran modal jangka pendek. Dalam hal ini pemerintah seharusnya lebih
memperhatikan balance transaksi autonomous daripada basic balance sebab
kenyataanya aliran midal jangka pendek jarang sekali sama dengan nol. Defisit
atau surplus suatu neraca pembayaran dilihat dari balance transaksi autonomous
yang kemudian tercermin dalam transaksi accomodating yaitu aliran modal
pemerintah jangka pendek.
3. Liquidity balance
Konsep ini dikembangkan di Amerika Serikat untuk mengukur
posisi neraca pembayarannya. Perbedaan dengan balance autonomous adalah
perlakuan terhadap pemilikan kekayaan (assets) jangka pendek. Kekayaan asing
(seperti surat berharga jangka pendek atau deposito bank) yang dimiliki oleh
penduduk Amerika diperhitungkan sebagai faktor yang mempengaruhi
ketidakseimbangan neraca pembayaran (Nophirin, 1991: 172).
2.6 Sebab – Sebab Suatu Negara Dapat
Mengalami Ketidakseimbangan dalam Neraca Perdagangan Internasional.
1.
Ekspor dan Impor dapat berubah-ubah karena musim
(seasonal disequilibrium.
2.
Perubahan di dalam pendapatan sebagai akibat
kebijaksanaan harga, tingkat bunga atau kesempatan kerja dari negara lain dapat
menimbulkan ketidakseimbangan (cyclical disequilibrium).
3.
Kemajuan tekhnik (misalnya: penemuan karet sintetis dapat
menyebabkan ketidakseimbangan/defisit negara penghasil karet alam).
4.
Aliran modal sebagai akibat kegiatan spekulasi (Nophirin,
1991: 180).
2.7 Perkembangan Neraca Perdagangan
1997 - 1998
Perkembangan neraca perdagangan pada tahun 1997 - 1998
mendapat tekanan cukup berat sebagai akibat adanya arus modal keluar yang cukup
besar dan beban pembayaran hutang luar negeri yang meningkat. Pada tahun 1997 -
1998, keseluruhan ekspor Indonesia sebesar US$ 56,2 miliar atau hanya meningkat
sebesar 7,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan terbesar berasal
dari ekspor nonmigas yaitu sebesar 17,0 persen menjadi US$ 45,9 miliar,
sedangkan ekspor migas turun sebesar
19,8 persen menjadi US$ 10,2 miliar. Penurunan cukup besar pada nilai ekspor
migas ini disebabkan oleh melemahnya permintaan dunia dan memburuknya harga
minyak bumi di pasaran internasional(http://www.anggaran.depkeu.go.id/). Dengan
demikian, peranan ekspor nonmigas terhadap keseluruhan nilai ekspor meningkat
dari 75,5 persen pada tahun 1996 - 1997 menjadi 81,8 persen pada tahun 1997 -
1998.
Depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang utama
dunia yang cukup tajam sejak bulan Juli 1997 telah mempengaruhi permintaan
barang-barang impor sehingga nilainya turun sebesar 6,8 persen menjadi US$ 42,7
miliar pada tahun 1997 - 1998. Semakin mahalnya harga-harga produk bahan baku
dan barang modal telah menyebabkan berkurangnya aktivitas impor non migas
sehingga nilainya turun sebesar 6,1 persen menjadi US$ 38,6 miliar. Demikian
pula impor migas turun sebesar 13,0 persen menjadi US$ 4,1 miliar.
Dalam waktu yang bersamaan, defisit sektor jasa-jasa
sedikit meningkat dari US$ 14,3 miliar pada tahun 1996 - 1997 menjadi sebesar US$ 15,2 miliar pada tahun
1997 - 1998. Membesarnya defisit ini berasal dari defisit jasa-jasa migas yang
meningkat sebesar US$ 1,1 miliar, sedangkan defisit jasa-jasa nonmigas menurun
sebesar US$ 0,2 miliar. Penerimaan devisa jasa-jasa masih tetap mengandalkan
sektor pariwisata dan pendapatan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar
negeri.
Sebagai negara berkembang yang masih memerlukan sumber
dana, transaksi berjalan Indonesia selalu mengalami defisit. Kegiatan impor
menurun dengan drastisnya akibat depresiasi rupiah yang tajam telah menurunkan
besarnya defisit transaksi berjalan dari US$ 8,1 miliar (-3,5 persen terhadap
PDB) pada tahun 1996 - 1997 menjadi hanya US$ 1,7 miliar (-1,2 persen terhadap
PDB) pada tahun 1997 - 1998 (http://www.anggaran.depkeu.go.id/).
Contoh Kasus
NERACA PERDAGANGAN INDONESIA SURPLUS
738 JUTA DOLLAR AS FEBRUARI 2015.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan
Indonesia pada Februari 2015 mengantongi surplus sebesar 738,3 juta dollar
Amerika Serikat (AS), di mana kinerja ekspor sebesar 12,29 miliar dollar AS
sementara impor sebesar 11,55 miliar dollar AS. Neraca perdagangan pada bulan
Februari mengalami surplus sebesar 738,3 juta dollar AS, yang dipicu oleh
surplus neraca migas sebesar 170 juta dollar AS dan surplus neraca non-migas
sebesar 570 juta dollar AS terhadap Amerika Serikat (http://setkab.go.id/)
Analisa:
Dari contoh kasus diatas kita dapat melihat bahwa pada
bulan Februari 2015 neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika Serikat
mengalami surplus. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia pun dapat bersaing
dengan produk – produk dengan negara lain terutama produk non migas hingga
mencapai 570 juta dollar AS. Hal ini pun juga selaras dengan ungkapan J.S Mill
dalam teori comparative advantage yang menyatakan bahwa setiap negara akan
mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage dan mengimpor
barang yang memiliki comparative disadvantage. Ini dibuktikan dengan produk
–produk non migas yang mengalami surplus.
Jika Indonesia ingin terus menerus mengalami surplus pada
neraca perdagangan internasionalnya, tidak cukup hanya mengandalkan comparative
advantage nya saja. Upaya-upaya untuk memberikan nilai keunggulan kompetitif
pada seluruh produk non migas dapat menjadi pendorong daya saing produk yang
dihasilkan. Kita dapat melihat bahwa keunggulan komparatif tidak lagi cukup
untuk memenangkan kompetisi, peran pemerintah sangat dibutuhkan disini untuk
membuat para pelaku bisnis Indonesia mampu unggul berdaya saing tinggi dalam
bidang ekonomi, terutama produk non migas.
Tantangan pada era sebelumnya yaitu perang dingin lebih
kearah politik dan militer saja. Pada era ini tantangan ekonomi ini sangat
ketat, apalagi dengan masuknya Indonesia ke dalam TPP (Trans Pacific
Partnership). Masuknya Indonesia ke dalam TPP dideklarasikan langsung oleh
Presiden Jokowi di Gedung Putih pada Oktober 2015. Hal ini pun sejalan dengan
upaya peningkatan pertumbuhan perekonomian, upaya yang dilakukan pemerintah
untuk mendorong perdagangan global, dan dengan masuknya Indonesia ke dalam TPP
diharapkan peningkatan nilai perdagangan terutama ekspor Indonesia.
BAB III
KESIMPULAN
Neraca Perdagangan Internasional merupakan suatu catatan
yang memuat atau mencatat semua transaksi ekspor dan transaksi impor barang
suatu negara. Neraca perdagangan dibuat agar suatu negara dapat mengetahui
perkembangan perdagangan internasional yang dilakukan. Jenis-jenis neraca suatu
perdagangan ialah surplus, defisit, dan seimbang. Neraca perdagangan internasional
bermanfaat sebagai tolak ukur arah kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan
pihak terkait, untuk mengetahui besaran jumlah pengeluaran dan pendapatan suatu
negara, dan untuk menjadi informasi kegiatan ekonomi internasional.
Pada contoh kasus neraca perdagangan Indonesia pada
Februari 2015 mengantongi surplus sebesar 738,3 juta dollar Amerika Serikat
dapat kelompok kami simpulkan bahwaIndonesia pun dapat bersaing dengan produk –
produk dengan negara lain terutama produk non migas hingga mencapai 570 juta
dollar AS. Hal ini pun juga selaras dengan ungkapan J.S Mill dalam teori
comparative advantage. Namun keunggulan komparatif tidak lagi cukup untuk
memenangkan kompetisi, maka diperlukan keunggulan kompetitif juga yang dibantu
oleh Pemerintah.Tantangan ekonomi saat ini sangat ketat, apalagi dengan
masuknya Indonesia ke dalam TPP (Trans Pacific Partnership).
Daftar
Pustaka
Buku dan Jurnal
Nopirin.
(1991). Ekonomi Internasional.
Yogyakarta: BPFE
Website
http://setkab.go.id/februari-2015-neraca-perdagangan-indonesia-surplus-738-juta-dollar-as/ di
akses pada 3 Mei 2016
http://www.anggaran.depkeu.go.id/Content/Publikasi/NK%20APBN/NK%20APBN%202003.pdf di akses pada 4 Mei 2016
www.ilmuekonomi.net/2015/10/pengertian-macam-macam-dan-fungsi-neraca-pembayaran.html?m=1/ di akses pada 4 mei 2016






mantep tenan referensinya....
BalasHapusijin comot buat namabah referensi Makalah neraca pembayaran dan perdagangan di web jurnalmakalah.com