Sabtu, 14 Mei 2016

Makalah Kelompok 7 Sistem Moneter Eropa


MAKALAH
SISTEM MONETER EROPA
STUDI KASUS
ANALISIS KEUNTUNGAN DAN KELEBIHAN SISTEM MONETER EROPA
Kelompok  7 :
                       Septiyanto Dwi S                  2014310014
                        Jehan Meiditian                2014310010
                       Dekki Nur Hidayat            2014230119
                       Hendrik Siahaan               2015230138
                       Annisa Restiany                 2015230045


INSTITUT ILMU SOSIAL DAN POLITIK
JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sistem Moenter Eropa (European Monetary System – EMS) merupakan pengelompokkan sebagian besar negara Eropa Barat yang bekerja sama untuk menjaga mata uang mereka dengan kurs tetap. Negara-negara EMS sepakat untuk mempertahankan nilai mata uang mereka di dalam kisaran tertentu dalam hubungannya satu sama lain. Kurs EMS bersifat fleksibel. Apabila sebuah negara terbukti lemah daripada lainnya dan pemerintah tidak dapat atau tidak mau mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki keadaan itu, kurs EMS dapat dirubah.
Untuk mewujudkan penyatuan ekonomi dan moneter dibentuk Bank Sentral Eropa dan penggunaan secara bebas Satuan Mata Uang Eropa (European Currency Unit – ECU). ECU mempunyai kekuatan yang sama dengan SDR dan likuiditas dan penerbitan pasar internasional untuk obligasi yang didenominasi dengan ECU telah meningkat, ECU dengan mudah mengungguli SDR. Alasannya tidak adanya AS$ atau Yen serta dukungan aktif untuk ECU oleh pemerintah, bank, dan dunia usaha Eropa.
1.2  Rumusan Masalah
Apa keuntungan dan kerugian yang dihadirkan Sistem Moneter Eropa dalam Kerjasama Regional Uni Eropa yaitu antara negara–negara anggota?

1.3  Tujuan Penelitian
Mengetahui keuntungan dan kerugian Sistem Moneter Eropa di dalam kerjasama Regional Uni Eropa yaitu antara negara–negara anggota.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Sistem Moneter Eropa
EMS (European Monetary System) diluncurkan pada tahun 1979 untuk membantu mengarah pada tujuan akhir dari EMU yang telah ditetapkan dalam Laporan Werner (1970). Sejak Perang Dunia II, upaya telah dilakukan untuk menjaga stabilitas mata uang antara mata uang utama melalui sistem nilai tukar tetap yang disebut Sistem Bretton Woods, lalu runtuh pada awal tahun 1970. Namun, para pemimpin Eropa yang sangat antusias untuk mempertahankan prinsip nilai tukar stabil daripada pindah ke kebijakan nilai tukar mengambang yang mendapatkan popularitas di Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan mereka membuat EMS. Itu bukan merupakan langkah sepenuhnya karena. Pertama, itu menimbulkan banyak kesulitan teknis dalam pengaturan tingkat yang benar untuk semua negara anggota, dan kedua, beberapa anggota kurang berkomitmen daripada yang lain. Inggris tidak bergabung ERM sampai tahun 1990 dan dipaksa untuk meninggalkannya pada tahun 1992 karena tidak bisa menjaga dalam batas nilai tukar. Bagaimanapun Proyek ini terus dijalankan: di bawah Traktat Maastricht (1992), EMS menjadi bagian dari proyek yang lebih luas untuk EMU yang dikembangkan pada tahun 1990an.
Pada tahun 1994 Institut Moneter Eropa diciptakan sebagai langkah transisi dalam membangun Bank Sentral Eropa (ECB) dan mata uang bersama. ECB yang didirikan pada tahun 1998, bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan moneter tunggal dan suku bunga bagi negara-negara pengadopsi, dalam hubungannya dengan bank sentral nasional mereka. Akhir tahun 1998, Austria, Belgia, Finlandia, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Portugal, dan Spanyol memangkas suku bunga mereka ke tingkat yang hampir seragam rendah dalam upaya untuk mempromosikan pertumbuhan dan untuk mempersiapkan jalan bagi terpadu mata uang.
Pada awal 1999, Uni Eropa dan anggota mengadopsi mata uang tunggal, (Euro) untuk pertukaran asing dan pembayaran elektronik. (Yunani, yang tidak memenuhi kondisi ekonomi yang diperlukan sampai tahun 2000, kemudian juga mengadopsi Euro) Ketika Euro muncul menjadi mata uang bersama pada tahun 1999, EMS secara efektif luka, meskipun ERM tetap beroperasi.
Pengenalan empat dekade euro setelah dimulainya Uni Eropa secara luas dianggap sebagai langkah besar menuju kesatuan politik Eropa. Dengan menciptakan kebijakan ekonomi umum, negara bertindak untuk menempatkan peredam pada belanja publik yang berlebihan, mengurangi utang, dan membuat usaha yang kuat agar menjinakkan inflasi. Namun, defisit anggaran dibentuk dalam proses memperkenalkan euro telah dilanggar oleh sejumlah negara sejak tahun 2001, sebagian terjadi karena pemerintah nasional mengambil langkah-langkah untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2003, menteri keuangan Uni Eropa, dihadapkan dengan kenyataan bahwa kemerosotan ekonomi telah menempatkan Perancis dan Jerman yang melanggar, sementara menangguhkan pakta tersebut Komisi Eropa dan pengadilan tinggi Uni Eropa membatalkan keputusan menteri keuangan pada tahun 2004.
Koin Euro dan catatan mulai beredar pada Januari, 2002, dan mata uang lokal tidak lagi diterima sebagai legal tender dua bulan kemudian. Unit mata uang Eropa (ECU), yang didirikan pada tahun 1979, adalah pendahulu dari Euro. Berasal dari keranjang berbagai jumlah mata uang dari negara-negara Uni Eropa, ECU adalah unit akuntansi yang digunakan untuk menentukan nilai tukar antara mata uang nasional.
Anggota Uni Eropa (Denmark, Inggris, dan Swedia) yang tidak mengadopsi Euro ketika diperkenalkan dan mungkin yang paling parah Inggris, yang terus menganggap dirinya terpisah dari Eropa. Dalam tiga negara itu, semuanya telah memiliki kecemasan yang kuat dari publik bahwa mata uang nasional masing-masing akan menyerah karena terlalu banyak kebebasan. Pemilih Denmark menolak adopsi Euro dalam referendum pada tahun 2000, pemungutan suara itu dipandang sebagai lawan penguatan euro di Inggris dan Swedia. Dari 12 anggota Uni Eropa yang mengakui sejak tahun 2004, ada tiga - Slovenia, Malta, dan Siprus - mengadopsi euro.
Meskipun integrasi moneter bukan tujuan asli dari Masyarakat Ekonomi Eropa, konsep tampaknya memperoleh dukungan dengan setiap krisis ekonomi Eropa. EMS adalah dikreditkan dengan membantu untuk mencegah krisis ekonomi dengan menstabilkan nilai tukar, mengurangi inflasi, dan koordinasi kebijakan moneter dari bank sentral anggota. Langkah EMS demikian besar menuju integrasi moneter Eropa.

2.1.1   Tujuan Sistem Moneter Eropa
1.      Memantapkan zona stabilitas moneter: di Eropa;
2.       Mengkoordinasi kebijakan-kebijakan kurs tukar terhadap mata uang-mata uang non EMS;
3.      Membuka jalan untuk akhirnya menjadi uni moneter Eropa.

2.1.2   Dasar Elemen Sistem Moneter Eropa:
Exchange Rate Mechanism (ERM) merupakan indeks komposit penjumlahan dari mata uang negara Eropa yang membatasi Fluktuasi mata uang negara anggota EMS dengan menetukan batas atas dan bawah.
Tujuan ditetapkannya ERM adalah untuk menjaga Ekuilibirium kurs di pasar uang internasional. Kurs mata uang negara anggota komunitas Eropa tidak boleh berfluktuasi melebihi 2,25% di atas atau di bawah nilai pari.
ERM atau mekanisme kurs mempunyai tiga karakteristik :
1.    Penetapan kewajiban setiap anggota untuk memelihara kurs;
2.    Penyediaan dana dalam rangka menjaga stabilitas kurs;
3.    Penentuan kurs yang baru atas kesepakatan bersama jika kondisi ekonomi mengharuskan demikian.
European Currenty Unit (ECU) atau Mata Uang Eropa yang memainkan peranan penting dalam menjalankan EMS. ECU adalah mata uang komposit yang merupakan penjumlahan dari mata uang 12 negara Eropa. Proporsi masing-masing mata uang negara anggota dalam ECU menunjukkan kekuatan ekonomi relatif dalam komunitas Eropa. ECU berfungsi sebagai satuan unit (unit of account), alat settlement, dan aset cadangan bagi anggota EMS.
European Monetary Cooperation Fund (EMCF) dibuat pada Oktober 1972 yang menjadi pokok dan fungsi adalah:
1.    Untuk memfasilitasi intervensi di pasar mata uang;
2.    Untuk memberi efek ke liquidasi antara bank sentral;
3.    Untuk mengelola fasilitas kredit jangka pendek yang terkait dengan EMS.

2.1.3   Economy and Moneter Union (EMU)
Sistem Moneter Eropa (EMS) adalah pendahulu dari Uni Ekonomi dan Moneter (EMU), yang menyebabkan pembentukan Euro. Ini adalah cara untuk menciptakan area stabilitas mata uang di seluruh Komunitas Eropa dengan mendorong negara-negara untuk mengkoordinasikan kebijakan moneter mereka. Ini digunakan Mekanisme Nilai Tukar (ERM) untuk menciptakan nilai tukar yang stabil dalam rangka meningkatkan perdagangan antara negara anggota UE dan dengan demikian membantu perkembangan pasar tunggal. Uang yang stabil telah menjadi bagian penting dari perhitungan ekonomi internasional sejak Perang Dunia II. Namun, pada 1980-an, pendapat tentang itu jauh lebih terbagi. Akibatnya, tidak semua negara ikut ambil bagian dalam EMS secara langsung, dan ada lebih perpecahan di tahun-tahun yang akan datang atas peran Uni Eropa dalam menetapkan kebijakan moneter sebagai EMS yang diganti dengan Euro.


2.1.4   Cara kerja Sistem Moneter Eropa
Bagian paling penting dari EMS adalah Mekanisme Nilai Tukar. Hal ini dilakukan pemerintah semua negara-negara anggota 'untuk menjaga nilai tukar mata uang mereka dalam band. Ini berarti bahwa tidak ada negara bisa berfluktuasi nilai tukar lebih dari 2,25% dari titik pusat. Ini dirancang untuk membantu menciptakan perdagangan yang stabil tanpa takut bahwa perubahan mendadak dalam nilai mata uang akan mengurangi perdagangan dan mendorong pengembangan hambatan perdagangan antara negara anggota.
Ini juga menciptakan European Currency Unit (ECU) untuk digunakan sebagai unit rekening. Meskipun bukan mata uang riil, ECU menjadi dasar bagi gagasan untuk menciptakan mata uang tunggal - sebuah ide yang diwujudkan dengan peluncuran Euro pada tahun 1999.

2.2  Masa Depan Sistem Moneter Eropa          
Menurut kesepakatan, negara Eropa akan membentuk Uni Moneter Eropa (European Monetary Union atau EMU) secara penuh, yang mempunyai satu bank sentral yang akan menerbitkan mata uang bersama pada tahun 1999 (disebut mata uang Euro). Kesepakatan tersebut mengharuskan integrasi dan koordinasi dalam kebijakan moneter dan fiskal negara anggotanya. Sebelum menjadi anggota, negara Eropa harus memenuhi standar sebagai berikut ini :
1.      Inflasi nominal tidak boleh lebih dari 1,5% di atas rata-rata tiga anggota dengan inflasi paling kecil tahun yang lalu.
2.      Tingkat bungan jangka panjang tidak boleh lebih dari 2% di atas rata-rata tiga anggota dengan tingkat bungan paling bawah.
3.      Defisit fiskal tidak boleh lebih dari 3% dari GNP.
4.      Utang pemerintah tidak boleh lebih dari 60%.


2.3            Proses Menuju Zona Euro
1.      Snake
Di Eropa selama pertangahan tahun 1970-an tercipta suatu pengelompokan mata uang yang disebut snake. Snake terdiri dari beberapa mata uang Eropa, yang dipimpin oleh deutsche mark Jerman. Di sebut Snake karena bentuknya dalam grafik yang menunjukkan pengambangan mata uang anggota terhadap mata uang non anggota, seperti yen atau dolar Amerika. Hancurnya Snake karena keluarnya beberapa mata uang seperti poundsterling, lira Italia, krona Swedia, serta keluar masuknya Franc Perancis. Setiap negara anggota bertanggung jawab untuk menjaga nilai mata uang pada tingkatan yang telah disepakati namun tiap negara memiliki tingkat inflansi, kebijakan moneter dan fiskal serta neraca pembayaran yang berbeda. Akibatnya tekanan-tekanan pasar mendorong kurs mata uang keluar dari kisaran yang telah disetujui dan negara-negara kekurangan sumber-sumber untuk memulihkan kurs.
2.      Sistem Moneter Eropa (European Monetary System – EMS)
Pelopor dari EMS adalah Snake. Negara-negara Eropa lebih menyukai kurs mata uang tetap dari pada kurs mengambang. Pada tahun 1979 dibentuk Sistem Moneter Eropa (European Monetary System – EMS). Ini adalah versi Snake yang diperluas dan disempurnakan. Perbedaan lainnya antara Snake dan EMS adalah bahwa kurs EMS bersifat fleksibel. Apabila sebuah negara terbukti lebih lemah dan pemerintah tidak dapat mengambil langkah untuk memperbaiki keadaan itu maka kurs EMS dapat diubah.  Uni Eropa mengambil langkah besar menuju penyatuan mata uang pada konferensi tingkat tinggi di Maastricht, Belanda selama bulan Desember 1991.  Kemudian negara-negara anggota menandatangani sebuah komitmen menuju penyatuan ekonomi dan moneter (EMU) yang melibatkan mata uang tunggal yang diatur oleh Bank Sentral Eropa pada tahun 1999.

3.      Dari European Currency Unit (ECU) ke Euro
European Currency Unit (ECU) dibentuk sebagai mata uang pembukuan EMS. Alasan penggunaan ECU melampaui SDR (Special Drawing Right) adalah karena adanya dukungan aktif untuk ECU oleh berbagai pemerintah, bank, dan dunia usaha Eropa. Euro telah menggantikan ECU dan 12 mata uang nasional. Euro adalah mata uang eceran sementara ECU hanya merupakan mata uang untuk perdagangan besar dan pasar debit. Uang logam pertama kali dikeluarkan tahun 1996 oleh Isle of Man dan uang kertas Euro di desain oleh Robert Kalina seorang seniman di Austrian National Bank.

2.4  Zona Euro
Euro menjadi alat pembayaran yang sah secara giral pada 1 Januari 1999 dan secara fisik baru dipakai pada 1 Januari 2002. Ada 18 negara anggota Uni Eropa yang menggunakan Euro sebagai mata uang. Wilayah pengguna mata uang ini disebut sebagai Zona Euro. Sebelas negara pertama mulai menggunakan sejak awal 1999. Negara-negara tersebut adalah Jerman, Irlandia, Belanda, Perancis, Luxemburg, Austria, Finlandia, Belgia, Italia, Portugal, dan Spanyol. Yunani menjadi pengguna ke-12 sejak awal 2001. Ke duabelas negara yang menyepakati dan menerima euro sebagai mata uang mereka juga menyerahkan kewenangan kebijakan moneter kepada Bank Sentral Eropa (European Central Bank – ECB). Mulai tanggal 1 Januari 2007 Slovenia turut bergabung menggunakan Euro. Siprus dan Malta menggunakan sejak 1 Januari 2008. Slovakia yang bergabung mulai 1 Januari 2009 dan Estonia pada 1  januari 2011. Yang terakhir adalah Latvia pada 1 Januari 2014. Selain itu beberapa negara kecil juga memakai Euro: Andorra, Monako, San Marino, Vatikan  Beberapa daerah juga diperbolehkan memakai Euro sebagai mata uang mereka yaitu : Montenegro, Kosovo, Guyana Perancis, Guadeloupe, Martinik, Mayotte, Reunion. Negara-negara anggota zona Euro memiliki ciri khas dalam awalan seri mata uang kertas Euro. Seri awalan “L” dari Finlandia, Seri awalan “M” dari Portugal, Seri awalan “N” dari Austria, Seri awalan “P” dari Belanda, Seri awalan “S” dari Italia, Seri awalan “T” dari Irlandia, Seri awalan “U” dari Perancis, Seri awalan “V” dari Spanyol, Seri awalan “X” dari Jerman, Seri awalan “Y” dari Yunani, Seri awalan “Z” dari Belgia. Walaupun berbeda nomor seri namun nilai dari mata uang tersebut tetap sama di seluruh negara zona eropa.
Polandia, Inggris, Swedia, dan Denmark merupakan negara anggota Uni Eropa namun tidak termasuk dalam Zona Euro. Polandia tetap menggunakan mata uang Złoty - PLN, Inggris tetap menggunakan Poundsterling – GBP, Swedia tetap menggunakan Swedish Krona – SEK dan Denmark tetap menggunakan Danish Krone – DKK. Alasan Polandia tidak menggunakan mata uang Euro karena saat polling dilakukan di Polandia, sebagian masyarakat polandia tidak setuju dengan alasan takut terjadinya hiperinflasi (lonjakan harga-harga barang yang memberatkan rakyat) dan semakin menguat karena melihat krisis hutang negara-negara Eropa yang memakai Euro sejak tahun 2010. Penolakan Euro paling keras dari Inggris. Bukan hanya menyangkut masalah perekonomian, tetapi juga nasionalisme. Nasionalisme masyarakat Inggris boleh dikatakan sangat fanatik dan keras. Kedaulatan juga menjadi alasan utama Inggris menolak menggunakan Euro sebagai alat tukar. Masyarakat Inggris tak ingin menghilangkan identitasnya sebagai negara superior yang tidak pernah dijajah oleh negara lain. Masyarakat Inggris mengkhawatirkan kekuatan dan pengaruhnya dapat menurun bila menggunakan Euro dan menggantikan keberadaan Poundsterling yang masih lebih tinggi nilainya dari Euro maupun Dollar sekalipun. Sedangkan Denmark dan Swedia menolak dengan alasan kondisi ekonomi di negara mereka yang tidak siap.




2.5  Analisis Keuntungan dan Kelebihan Sistem Moneter Eropa

A. Keuntungan

1.   Biaya transaksi akan dihilangkan
Misalnya, perusahaan inggris saat ini menghabiskan sekitar £ 1,5 milyar tahun yang membeli dan menjual mata uang asing untuk melakukan bisnis di Uni Eropa. Dengan EMU ini dihilangkan, dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan Uni Eropa.
2.   Harga Transparansi
Perusahaan dan rumah tangga sering merasa sulit untuk secara akurat membandingkan harga barang, jasa, dan sumber daya di Uni Eropa kaerna efek distorsi dari perbedaan kurs. Hal ini kurang lumrah dalam perdagangan. Menurut teori ekonomi, harga harus bertindak sebagai mekanisme untuuk mengalokasikan sumber daya secara optimal, sehingga dapat meningkatkan efisiensi ekonomi. Ada kesempatan jauh lebih besar ini terjadi di daerah dimana ada EMU.
3.   Ketidakpastian yang disebabkan oleh fluktuasi kurs dihilangkan
Banyak perusahaan menjadi waspada ketika berinvestasi di negara-negara lain karena ketidakpastian yang disebbakan oleh fluktuasi mata uang di Uni Eropa. Investasi akan naik di daerah EMU sebagai mata uang adalah universal dikawasan tersebut, sehingga kecemasan yang sebelumnya jelas adalah tidak ada lagi.
4.   Mata uang tunggal di pasar tunggal masuk akal
Perdagangan segala sesuatu yang lain harus beroperasi lebih efektif dan efisien dengan Euro. Mata uang di pasar tunggal tampaknya menjadi jalan ke depan.
5.   Rival ke “Big Two”
Jika kita lihat di dunia saat ini, kita dapat melihat mata uang yang kuat seperti yen Jepang dan Dolar Amerika. Amerika dan Jepang keduanya memiliki ekonomi yang kuat dan memiliki jutaan penduduk. Sebuah serikat moneter baru ditemukan dan mata uang abru di Eropa bisa menjadi saingan Big Two. EMU bisa mandiri sehingga mereka bisa bertahan hidup tanpa perdagangan dengan siapapun di luar wilayah EMU atau tanpa bantuan dari Jepang dan Amerika Serikat.
6.   Mencegah perang
EMU akan menjadi proyek politik. Ini adalah langkah menuju integrasi Eropa, untuk mencegah perang. Fakta yang diketahui bahwa negara-negara yang berdagang secara efektif bersama-sama tidak berperang satu sama lain dan jika EMU membuat nyaman perdagangan maka tercipta perdamaian di dunia, terutama Eropa.
7.   Peningkatan perdagangan dan mengurangi biaya bagi perusahaan
Para pakar berpendapat bahwa EMS membawa perdagangan ekonomi yang cukup besar melalui penghindaran dari fluktuasi nilai tukar, tetapi juga karena hal ini membantu untuk menurunkan biaya industri karena perusahaan tidak perlu membeli valuta asing untuk digunakan dalam Uni Eropa. Bagi mereka, Uni Eropa merupakan penyelesaian pasar tunggal Eropa.
8.   Agenda politik
Ada juga agenda politik untuk bank Eropa (Sistem Eropa Bank Sentral-ESCB), penghapusan lengkap pengendalian nasional atas kebijakan moneter dan pengangkatan sebagai kontrol atas kebijakan fiskal. Negara akan kehilangan kedaulatan (kemampuan untuk mengendalikan urusan mereka sendiri). Ini akan menjadi langkah maju menuju persatuan politik.

9.      Inflasi
Dari pertengahan 1980-an dan seterusnya, ada sejumlah ekonom dan politisi yang berpendapat bahwa untuk Inggris setidaknya EMU memberikan jalan terbaik ke depan untuk mencapai tingkat inflasi yang rendah di seluruh Uni Eropa. Selama paruh pertama tahun 1980-an, negara-negara inflasi yang tinggi seperti Perancis dan Italia dipaksa untuk mengadopsi kebijakan yang mengurangi tingkat inflasi mereka untuk sesuatu yang mendekati tingkat inflasi Jerman. Jika mereka tidak melakukan hal ini, Franc dan Lira harus secara berkala mendevaluasi, meniadakan nilai tukar keuntungan tetap dari sistem.

B.  Kerugian

1.   Ketidakpastian Sistem
Sepanjang tahun 1980-an Inggris menolak untuk bergabung dengan ERM. Ini menyatakan bahwa tidak mungkin untuk menjaga stabilitas nilai tukar dalam ERM, terutama pada awal tahun 1980 ketika Pound adalah petro mata uang dan bila laju inflasi Inggris konsisten. Ketika Inggris bergabung di ERM pada tahun 1990 telah terjadi tiga tahun stabilitas mata uang relatif di Eropa dan itu tampak seolah-lah telah menjadi sistem yang realitf kuat. Peristiwa September 1992, ketika Inggris dan Italia dipaksa untuk meninggalkan sistem, menunjukkan bahwa sistem itu jauh lebih kuat dari pada yang telah diperkirakan.
2.   Lebih Dari Estimasi Manfaat Perdagangaan
Beberapa ekonom berpendapat bahwa perdagangan dan keuntungan biaya dari EMU telah lebih dari perkiraan. Ada sedikit yng bisa diperoleh dari gerak sistem sekarang yang memiliki stabilitas dibangun ke dalamnya, dengan kekuataan yang dimiliki EMU.

3.   Kecenderungan Deflasi
Argumen ekonomi yang paling penting berkaitan dengan kecenderungan deflasi dalam sistem ini. Pada 1980-an dan 90-an perancis berhasil menurunkan tingkat inflasinya ke tingkat Jerman, tetapi pada biaya yang  ke unemployment. Untuk Inggris mendapat argumen bahwa keanggotaan ERM antara tahun 1990 dan 1992 tidak perlu berkepanjangan. Hal ini karena mekanisme penyesuaian bertindak lebih seperti standar emas. Inflasi yang lebih tinggi di satu negara ERM berarti kemungkinan untuk menghasilkan defisit transaksi berjalan  dan menempatkan tekanan pada mata uang. Untuk mengurangi defisit dan inflasi, negara harus memperbaiki ekonominya.














BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Terbentuknya Sistem moneter Eropa dilatarbelakangi oleh para pemimpin Eropa untuk mempertahankan prinsip nilai tukar stabil daripada menggunakan nilai tukar mengambang. Selain itu EMS sebagai langkah transisi dalam membangun Bank Sentral Eropa (European Centarl bank – ECB) dan mata uang bersama. ECB yang didirikan pada tahun 1998, bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan moneter tunggal dan suku bunga bagi negara-negara pengadopsi, dalam hubungannya dengan Bank Sentral Nasional mereka. Dalam proses menuju Zona Euro, melewati 3 tahap, yaitu: Snake, EMS, European Currency Unit (ECU) ke Euro. Proses tersebut telah membuat kesepakatan mengharuskan integrasi dan koordinasi dalam kebijakan moneter dan fiskal negara-negara anggota. Meskipun Sistem Moneter Eropa dibuat oleh negara-negara supranasional namun dalam pelaksanaannya tidak luput dari kekurangan dan kelebihan.








DAFTAR PUSTAKA

A.    Buku
Afxentiou, Panos C. 2000. Convergence the Maastricht Criteria and Their        Benefits. University of Calgary
Caravelis, George. 2005. European Monetary Union. An Application of the Fundamental Principles of Monetary Theory. Avebury
Cini, Michelle. 2010. European Union Politics. United States: Oxford University
McCormick, John. 2002. Understanding The European Union : A Concise  Introduction. New York : Palgrave
Nopirin. (1991). Ekonomi Internasional. Yogyakarta: BPFE

B.  Internet

0 komentar:

Posting Komentar