
Kampus Tercinta
– IISIP Jakarta
Institut Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Jakarta
SISTEM
KURS FLEKSIBEL TAHUN 2000 - SEKARANG
MAKALAH EKONOMI INTERNASIONAL
KELOMPOK
3
SENDI GABRIELLA 2012310001
TIKA OKTAVIANI 2012310013
ARIN YULISTIANA 2013230029
LIDYA ERINDA 2013310025
NURFIDYA AGUSTIN 2014230084
ILMU
HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
INSTITUT
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JAKARTA
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
Krisis ekonomi dunia yang terjadi pada tahun 1998 telah
membawa perubahan yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi dunia. Pada
kawasan Asia Tenggara, negara–negara seperti Malaysia, Filiphina, Thailand, dan
Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Penurunan pertumbuhan
ekonomi yang tajam terlihat pada sisi permintaan domestik dan impornya akibat
krisis tersebut. Sedangkan pada kawasan Asia Timur, khususnya Jepang yang
mengalami pertumbuhan ekonomi yang memburuk akibat krisis tersebut. Hal ini
terkait dengan berbagai kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi negara–negara
Asia Tenggara yang merupakan mitra dagang utamanya. Sementara itu, pertumbuhan
ekonomi negara– negara Amerika Utara dan Eropa Barat berada tetap pada tingkat
yang terjaga.
Konstelasi moneter dunia saat itu dipengaruhi oleh nilai
valuta asing yang diartikan sebagai mata uang asing yang digunakan untuk
melakukan atau membiayai transaksi-transaksi ekonomi dan keuangan internasonal.
Total valuta asing yang dimiliki oleh negara tersebut atau disebut juga sebagai
cadangan devisa sangat mempengaruhi perekonomian negarat ersebut. Semakin
banyak devisa yang dimiliki suatu negara, maka semakin besar kemampuan negara
tersebut dalam melakukan transaksi ekonomi dan keuangan internasional dan
semakin memperkuat nilai mata uang tersebut.
Kondisi perekonomian dunia saat itu telah membawa
perubahan besar pada penggunaan sistem kursdi masa sekarang ini. Dari rezim
sebelumnya yang menggunakan sistem kurs tetap, yang kemudian berubah menjadi
menggunakan sistem kurs mengambang atau fleksibel. Perubahan sistem kurs
tersebut diharapkan akan membawa perubahan dalam pertumbuhan ekonomi dunia
pasca krisis 1998, hingga di masa sekarang.
1.2.RumusanMasalah
1. Apa pengertian sistem nilai
tukar fleksibel?
2. Apa kelebihan dan kelemahan
nilai tukar fleksibel?
3. Bagaimana Kebijakan Moneter Dalam Sistem Nilai
Tukar Fleksibel?
4. Bagaimana implementasi penggunaan sistem kurs fleksibel
tahun 2000 hingga sekarang?
1.3.Tujuan
1. Untuk mengatahui apa itu sistem kurs fleksibel.
2.
Untuk
mengatahui kelemahan dan kelebihan penggunaan sistem kurs fleksibel.
3.
Untuk mengetahui kebijakan moneter dalam sistem nilai tukar fleksibel
4. Untuk mengetahui bagaimana implementasi penggunaan sistem
kurs fleksibel tahun 2000 hingga sekarang.
1.4 Kerangka Teori
1. Kebijakan Moneter
Menurut Nopirin, kebijakan moneter adalah tindakan yang dilakukan
oleh penguasa moneter, biasanya adahal bank sentral, untuk mempengaruhi jumlah
uang yang beredar dan kredit yang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat
(Nopirin. 1992). Bank sentral adalah lembaga yang berwenang mengambil langkah kebijakan
moneter untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Sedangkan menurut Iswardono, kebijakan
moneter merupakan salah satu bagian integral dari kebijakan ekonomi makro. Kebijakan
moneter ditujukan untuk mendukung tercapainya sasaran ekonomi makro, yaitu
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan, dan
keseimbangan neraca pembayaran.
Dari pendapat para ahli di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang
bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal seperti pertumbuhan ekonomi yang
tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan dan keseimbangan eksternal
seperti keseimbangan neraca pembayaran,
serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang
dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional
yang seimbang.
Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka
kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkannya kembali (document.tips)
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Sistem Kurs Fleksibel
Menurut Triyono (2008), kurs (exchange rate) adalah
pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu merupakan perbandingan nilai
atau harga antara kedua mata uang tersebut. Dalam hubungan
ekonomi internasional, terdapat beberapa sistem dalam suatu sistem nilai tukar,
yaitu:
a.
Nilai
tukar mengambang (floating exchange rate
system), dalam sistem nilai tukar mengambang, nilai tukar mata uang suatu
negara semata-mata ditentukan dari adanya permintaan dan penawaran mata uangnya
dalam bursa pertukaran mata uang internasional. Sistem nilai tukar mengambang
didefenisikan sebagai hasil keseimbangan yang terus menerus berubah sesuai dengan
berubahnya permintaan dan penawaran dipasar valuta asing.
b.
Nilai
tukar tetap (fixed exchange rate system),
pemerintah dapat mempertahankan suatu kebijakan yang menjaga agar nilai mata
uangnya tetap pada tingkat yang stabil dengan menginterfensi dipasar devisa.
Pada sistem nilai tukar tetap ini mata uang suatu negara ditetapkan secara
tetap dengan mata uang asing tertentu.
c.
Nilai
tukar terkendali (managed floating
exchange rate system), sistem ini berlaku pada situasi dimana nilai tukar
ditentukan berdasarkan permintaan dan penawaran, tetapi Bank Central dari waktu
ke waktu ikut campur tangan guna menstabilkan nilainya
(Triyono. 2008)
Pada pembahasan kali ini, kelompok
3 akan memfokuskan pada pembahasan sistem nilai tukar mengambang atau
fleksibel. Sistem nilai tukar mengambang bebas (free floating exchange rate
system) adalah sistem nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing
yang nilai tukarnya ditentukan melalui mekanisme pasar, yaitu melalui kekuatan
tarik menarik antara permintaan dan penawaran terhadap valuta asing di pasar
valuta asing pada waktu tertentu. Dengan kata lain, melalui sistem ini
kecenderungan suatu mata uang mengalami apresiasi ataupun depresiasi relatif
terhadap mata uang lainnya akan sangat tergantung pada minat pasar untuk memegang
mata uang yang bersangkutan, tanpa adanya pembatasan maupun intervensi secara
langsung dari pihak-pihat tertentu, termasuk intervensi langsung dari pemegang
otoritas moneter suatu negara. Jadi dengan sistem nilai tukar mengambang bebas,
nilai tukar mata uang terhadap mata uang lainnya akan dibiarkan mengambang
bebas, dalam arti fluktuasinya dibiarkan bebas tanpa dibatasi atau dikendalikan
secara langsung (Petra.ac.id).
2.2 Kebijakan Moneter Dalam Sistem Nilai Tukar Fleksibel
Dalam sistem nilai tukar yang
fleksibel, overall Balance of Payment
(BOP) harus selalu ada dalam posisi ekuilibrium artinya neraca
transaksi berjalan akan selalu sama besarnya dengan neraca transaksi modal. Hal
ini dapat dijelaskan melalui mekanisme sederhana sebagai berikut:
1. Apabila overall BOP mengalami
surplus, nilai tukar Rupiah akan mengalami apresiasi sehingga mendorong impor
dan mengurangi daya saing sehingga ekspor turun. Akibatnya neraca transaki
berjalan akan memburuk sampai overall BOP mencapai ekuilibirum.
2. Sebaliknya defisit overall BOP
akan mendorong nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi sehingga impor turun dan
daya saing meningkat sehingga nilai ekspor meningkat. Alhasil, neraca transaksi
berjalan akan membaik sehingga overall BOP akan ekuilibirum.
Dalam
model ini, neraca transaksi
berjalan memegang peranan
penting sebagai mekanisme penyesuaian sehingga cadangan devisa
diasumsi konstan. Posisi neraca ini, baik surplus maupun defisit, dianggap akan
bertahan dalam jangka panjang. Selain
itu, gerakan kapital hanya merupakan fungsi dari perbedaan suku bunga dalam dan
luar negeri. Perbedaan suku bunga ini dapat dihitung baik melalui pendekatan
uncovered interest parity maupun covered interest parity yang sudah
memperhitungkan ekspektasi depresiasi dan premi risiko. Mekanisme pengaruh suku
bunga dalam menjaga keseimbangan overall BOP dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Apresiasi nilai tukar Rupiah akan menyebabkan neraca transaksi
berjalan memburuk sehingga diperlukan kenaikan suku bunga dalam negeri
dalam rangka menarik aliran modal masuk ke dalam negeri. Akibatnya neraca
transaksi modal meningkat dan overall BOP mencapai ekuilibrium.
- Depresiasi
nilai tukar Rupiah akan memperbaiki posisi neraca transaksi berjalan
sehingga diperlukan suku bunga yang lebih rendah untuk menghambat aliran
modal masuk (jak-stik.ac.id)
2.3
Kelebihan dan Kelemahan Nilai Tukar Fleksibel
Setiap sistem nilai tukar pastinya
memiliki kelebihan dan kelemahan yang akan menjadi pertimbangan dari penggunaan
sistem tersebut. Berikut merupakan kelebiha dan kelemaha yang dimiliki oleh
sistem nilai tukar mengambang atau fleksibel:
1. Terjadi koreksi otomatis terhadap
ketimpangan neraca pembayaran nasional, sehingga seringkali disebut
stabilisator otomatis (automatic stabilizer). Otoritas moneter suatu negara
membiarkan kurs mata uangnya berfluktuasi secara bebas menuju tingkat
keseimbangannya di pasar valuta asing. Dalam hal ini ketidakseimbangan neraca
pembayaran secara otomatis terkoreksi tanpa memerlukan kebijakan ekonomi
pemerintah secara khusus.
2. Cadangan valuta asing suatu negara
relatif utuh, dalam arti tidak digunakan untuk melakukan intervensi di pasar
valuta asing demi stabilisasi kurs. Karena, nilai tukar mata uang nasional
secara otomatis akan segera disesuaikan dengan tingkat nilai tukar di pasar
valuta asing.
3. Relatif lebih memiliki daya lindung
terhadap fluktuasi perekonomian dunia. Negara yang menerapkan sistem ini tidak
akan terikat secara langsung terhadap suatu kemungkinan munculnya gejolak
inflasi dunia yang tinggi. Hal ini juga merupakan suatu perlindungan yang lebih
luas dari goncangan dan fluktuasi ekonomi dunia.
4. Pemerintah memiliki kebebasan
(otonomi) yang lebih besar dalam menentukan kebijaksanaan ekonomi di dalam
negerinya. Artinya, pemerintah dapat secara bebas memilih berapapun tingkat
permintaan domestik yang dikehendaki, dan dengan mudah membiarkan pergerakan
nilai tukar menyelesaikan berbagai permasalahan yang terdapat pada neraca
pembayarannya.
5. Kondisi asimetri dan ketidakadilan
ala Bretton Wood dapat dihilangkan. Setiap negara memiliki peluang dan
kedudukan yang relatif sama, paling tidak menurut hitungan teoritis, untuk
mempengaruhi nilai tukar mata uang nasional terhadap mata uang – mata uang
asing lainnya.
Sedangkan
kelemahan yang mungkin muncul dari penerapan sistem nilai tukar mengambang atau
fleksibel adalah sebagai berikut :
1. Para pembuat keputusan, dalam hal ini
bank sentral dan pemerintah, tidak lagi dibebani oleh kekuatiran terhadap
berkurangnya cadangan devisa untuk mempertahankan nilai tukar, dengan demikian
dapat menyebabkan diterapkannya kebijaksanaan fiskal dan moneter yang terlalu
ekspansif, yang bisa berakibat jatuhnya negara tersebut ke dalam perangkap
inflasi. Atau dengan kata lain, dapat menyebabkan timbulnya kekurangdisiplinan
pemerintah dalam menetapkan kebijaksanaan ekonominya.
2. Munculnya destabilizing speculation
(spekulasi perusak stabilitas) dan gangguan terhadap pasar uang. Spekulasi
perusak stabilitas ini cenderung memperbesar gejolak nilai tukar mata uang
dalam jangka panjang daripada yang seharusnya terjadi sebagai akibat dari
gangguan ekonomi yang tidak terduga. Hal ini akan membawa ketidakpastian pada
bidang perdagangan dan investasi, khususnya dalam segala hal yang berkaitan
dengan pembayaran luar negeri.
3. Timbulnya kebijakan-kebijakan ekonomi
yang tidak terkoordinasi dengan baik. Masing-masing negara akan lebih
berpeluang untuk menerapkan kebijaksanaan ekonomi sepihak yang menguntungkan
dirinya sendiri, tanpa menghiraukan dampak negatif kebijakan tersebut terhadap
negara lainnya.
4. Timbulnya ilusi tentang otonomi yang lebih
besar. Para pembuat kebijakan ekonomi tidak dapat mengabaikan pengaruh
pelaksanaan kebijakan ekonomi terhadap kondisi nilai tukar valuta asing, dan
sebaliknya. Suatu depresiasi yang meningkatkan harga barang-barang impor akan
mendorong kenaikkan upah tenaga kerja. Hal ini akan meningkatkan harga jual
komoditi, sehingga merangsang inflasi, yang selanjutnya menyebabkan tuntutan
kenaikkan upah yang lebih tinggi lagi. Oleh karena itu, pada akhirnya sistem
nilai tukar mengambang bebas dapat mempercepat reaksi harga terhadap kenaikan penawaran
uang (sistem nilai tukar mengambang bebas tidak benar-benar memperkuat
pengendalian terhadap tingkat penawaran riil uang) (petra.ac.id)
2.4
Implementasi Penggunaan Sistem Kurs Fleksibel Tahun 2000-Sekarang
Sejak tahun 1944 sampai dengan akhir tahun 60-an, system kurs
valuta asing atau sistem moneter internasional didasarkan pada Fixed Exchange
rate (sistem kurs tetap). Hal ini karena didasarkan pada perjanjian yang
disetujui oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dengan Bank Dunia (World Bank).
Sistem ini juga dikenal sebagai Standar Tukar Emas, karena banyak negara yang
memegang emas dan devisa, khususnya Dollar Amerika sebagai cadangannnya. Namun,
sejak tahun 60-an sistem ini tidak dipergunakan lagi dan beralih menggunakan
sistem kurs mengambang (floating exhange rate).
Pada pembahasan kali ini, kelompok
3 memfokuskan pada implementasi penggunaan sistem kurs mengambang atau
fleksibel pada tahun 2000 hingga sekarang pada salah satu negara, yaitu
Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan
regional Asia Tenggara yang paling parah mederita akibat krisis moneter yang
terjadi antara rentan tahun 1997.
Berawal
dari krisis perekonomian pada pertengahan tahun 1997 yang diawali dari krisis
moneter yang melanda negara-negara di kawasan Asia seperti Korea, Thailand, dan
Malaysia yang akhirnya juga berujung terhadap Indonesia. Hal ini dapat
dicermati dari pergerakan nilai tukar rupiah yang terus merosot. Pada tanggal
11 September 1996 batas kurs intervensi jual-beli dolar AS, dari 5-8 persen berubah
drastis menjadi 8-12 persen pada tanggal 1 Juli 1997. Pada tanggal 2 Juli 1997
pembelian dolar besar-besaran terjadi di Bangkok yang sudah terjadi beberapa
hari menyebabkan Thailand meninggalkan sistem kurs tetapnya dan langsung
berganti dengan pengambangan bath secara bebas. Hal serupa juga dilakukan oleh
Malaysia, tepatnya tanggal 14 Juli 1997 Malaysia meninggalkan sistem kurs tetap
dari ringgit. Berbagai kebijakan pengambangan kurs inilah yang menjadikan
Indonesia satu-satunya negara dikawasan Asia Tenggara yang masih mempertahankan
sistem kurs pengambangan terkendali atau belum melakukan sistem pengambangan
bebas. Meskipun telah dilakukan langkah pelebaran spread dan intervensi dengan
menjual dolar AS, namun tekanan terhadap pasar valas di Indonesia dan wilayah
ASEAN terus berlanjut. Menghadapi tekanan yang contagious dan berkepanjangan
terhadap pasar valas, pemerintah melalui Bank indonesia melakukan tindakan
drastis pada tanggal 14 Agustus 1997, yaitu meninggalkan kebijakan pengambangan
terkendali dan menggantinya dengan sistem pengambangan secara bebas.
Penetapan
sistem kurs mengambang atau fleksibel yang diterapkan Indonesia ini didasarkan
pada alasan bahwa kegagalan pada krisis
1997 telah memberikan dampak bagi perekonomian Indonesia akibat gagalnya
pengendalian kebijakan moneter khususnya terkait kestabilan nilai tukar rupiah
yang berada di bank sentral Indonesia yaitu Bank Indonesia. Krisis nilai tukar
berpengaruh negatif terhadap perekonomian suatu negara, seperti yang telah
dirasakan oleh beberapa negara asia termasuk Indonesia pada tahun 1997/98.
Krisis nilai tukar ini tidak hanya mengakibatkan harga-harga membumbung tinggi,
tetapi juga mengakibatkan barang-barang impor, seperti bahan baku, barang
modal, dan barang konsumsi lebih mahal. Selain itu krisis nilai tukar
mengakibatkan penarikan besar-besaran modal perbankan oleh masyarakat hingga
berujung pengetatan likuiditas. Lebih dari itu akibat nilai tukar yang semakin
lemah berakibat inflasi melambung tinggi dan menurunkan daya beli masyarakat
(Saputra. 2015)
Beralihnya sistem
nilai tukar rupiah menjadi sistem nilai tukar mengambang atau fleksibel
memberikan dampak terhadap kebijakan
moneter di Indonesia. Nilai tukar yang sebelumnya digunakan sebagai salah
satu nominal dalam pencapaian sasaran
akhir kebijakan moneter tidak berlangsung lama digunakan lagi. Sementara dengan semakin terbukanya perekonomian
Indonesia, nilai tukar rupiah sangat
rentan terhadap arus lalu lintas modal internasional yang bergerak sedemikian
dinamis. sistem yang mengambang penuh memberikan beberapa implikasi
terhadap pengendalian moneter di Indonesia.
Dalam sistem nilai tukar mengambang, kebijakan moneter akan
semakin efektif khususnya apabila diikuti oleh mobilitas kapital secara
internasional semakin sempurna. Setiap terjadi tekanan nilai tukar Rupiah
sebagai efek kebijakan moneter akan disesuaikan melalui pengaruh suku bunga
terhadap aliran modal dan pengaruh perubahan nilai tukar Rupiah terhadap penawaran
ekspor dan permintaan impor. Melalui mekanisme demikian, neraca transaksi berjalan
berfungsi sebagai alat mekanisme penyesuaian yang penting sehingga overall
Balance of Payment (BOP) selalu dalam ekuilibrium.
Dengan demikian,
kebijakan moneter dalam sistem nilai tukar Rupiah yang fleksibel memerlukan
sensivitas yang tinggi antara suku bunga domestik terhadap aliran modal
internasional dan keeratan hubungan negatif antara nilai tukar Rupiah dengan suku
bunga serta elatisitas yang tinggi antara perubahan nilai tukar Rupiah dengan penawaran
ekspor dan permintaan impor. Selain itu, nilai tukar Rupiah yang fleksibel dan stabil
juga harus tetap dijaga agar tidak memberikan tekanan pada harga-harga
domestik. Oleh karena suku bunga tampak memegang peranan vital dalam
pengendalian moneter dalam sistem nilai tukar yang fleksibel (jak-stik.ac.id).
2.5 Analisa
Jika
dilihat menggunakan konsep kebijakan moneter yang berarti tindakan yang dilakukan
oleh penguasa moneter (bank sentral) untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar
dan kredit yang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat, maka penggunaan
sistem kurs mengambang atau fleksibel pada tahun 2000 hingga sekarang yang
digunakan sebagai salah satu instrument kebijakan moneter suatu negara sudah
sesuai dengan perkembangan hubungan internasional dalam konteks ekonomi dimasa
sekarang ini.
Pandangan ini didasarkan pada alasan
karena; Pertama, dunia tidak lagi menggunakan emas sebagai sistem pembayaran
atau nilai tukar karena dinilai kurang efisien, sehingga negara – negara di
dunia sepakat untuk menggunakan uang sebagai sistem nilai tukar di masa
sekarang. Kedua, penggunaan sistem kurs mengambang atau fleksibel ini digunakan
karena ekonomi internasional saat ini sudah ditentukan oleh pengaruh atau
mekanisme pasar dimana semua pihak tidak hanya pemerintah suatu negara memiliki
peran, seperti misalnya permintaan dan penawaran pasar, kegiatan MNC, dan lain
– lain. Dengan penggunaan sistem kurs mengambang atau fleksibel ini, diharapkan
akan menjaga stabilitas ekonomi negara – negara.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebijakan moneter adalah tindakan yang dilakukan oleh penguasa
moneter, biasanya adahal bank sentral, untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar
dan kredit yang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Kebijakan moneter
ditujukan untuk mendukung tercapainya sasaran ekonomi makro, yaitu
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan, dan
keseimbangan neraca pembayaran. Salah satu instrument dari kebijakan moneter
adalah kurs. Kurs
(exchange rate) adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu
merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut.
Dalam hubungan ekonomi internasional, terdapat beberapa sistem dalam suatu
sistem nilai tukar, salah satunya adalah sistem kurs mengambang atau fleksibel.
Sistem nilai tukar mengambang bebas
(free floating exchange rate system) adalah sistem nilai tukar mata uang
domestik terhadap mata uang asing yang nilai tukarnya ditentukan melalui
mekanisme pasar, yaitu melalui kekuatan tarik menarik antara permintaan dan
penawaran terhadap valuta asing di pasar valuta asing pada waktu tertentu.
Dengan kata lain, melalui sistem ini kecenderungan suatu mata uang mengalami
apresiasi ataupun depresiasi relatif terhadap mata uang lainnya akan sangat
tergantung pada minat pasar untuk memegang mata uang yang bersangkutan, tanpa
adanya pembatasan maupun intervensi secara langsung dari pihak-pihat tertentu,
termasuk intervensi langsung dari pemegang otoritas moneter suatu negara. Jadi
dengan sistem nilai tukar mengambang bebas, nilai tukar mata uang terhadap mata
uang lainnya akan dibiarkan mengambang bebas, dalam arti fluktuasinya dibiarkan
bebas tanpa dibatasi atau dikendalikan secara langsung.
Indonesia
merupakan salah satu negara yang menerapkan sistem kurs mengambang atau
fleksibel. Perubahan penerapan sistem ini dilakukan akibat krisis moneter yang
terjadi antara rentan tahun 1997. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa kegagalan pada krisis 1997 telah
memberikan dampak bagi perekonomian Indonesia akibat gagalnya pengendalian
kebijakan moneter khususnya terkait kestabilan nilai tukar rupiah yang berada
di bank sentral Indonesia yaitu Bank Indonesia. Beralihnya sistem
nilai tukar rupiah menjadi sistem nilai tukar mengambang atau fleksibel
memberikan dampak terhadap kebijakan
moneter di Indonesia. Nilai tukar yang sebelumnya digunakan sebagai salah
satu nominal dalam pencapaian sasaran
akhir kebijakan moneter tidak berlangsung lama digunakan lagi. Sementara dengan semakin terbukanya perekonomian
Indonesia, nilai tukar rupiah sangat
rentan terhadap arus lalu lintas modal internasional yang bergerak sedemikian
dinamis. sistem yang mengambang penuh memberikan beberapa implikasi
terhadap pengendalian moneter di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Nopirin.
1992. Ekonomi Internasoional. BPFE. Yogyakarta. Document.tips
Triyono. 2008. Analisis Perubahan Kurs Rupiah Terhadap
Dollar Amerika. Jurnal
Ekonomi Pembangunan. Vol.9 No. 2, Desember
2008: 156-167. Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Saputra,
Wisnu. 2015. Penetapan Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas Oleh Bank
Indonesia
Berdasarkan Pasal 33 Uud 1945. Universitas Brawijaya
Jurnalakutansi.petra.ac.id
storage.jak-stik.ac.id






0 komentar:
Posting Komentar